ETNIKOM. NET, JAKARTA — BUDAYANTARA akan menggelar Rapat Kerja (Raker) pada 4–5 November 2026 di Jakarta. Agenda ini menjadi momentum penting untuk memperkuat konsolidasi organisasi, merumuskan arah kebijakan, serta menyusun program strategis Budayantara dalam menghadapi tantangan industri budaya, media digital, pendidikan, dan industri kreatif di masa depan.
Rapat kerja tersebut tidak sekadar menjadi forum evaluasi dan penyusunan program, tetapi juga diarahkan untuk membangun fondasi kelembagaan yang lebih profesional, terintegrasi, dan berkelanjutan.
Melalui sejumlah unit pengembangan, yakni Budayantara Pictures, Budayantara Academy, Budayantara Lab Digital, serta Budayantara Production, BUDAYANTARA berupaya membangun ekosistem yang menghubungkan kekuatan budaya, kreativitas, teknologi, pendidikan, dan produksi konten.
Inisiatif ini diharapkan mampu menjadikan budaya bukan hanya sebagai warisan yang dipertahankan, tetapi juga sebagai kekuatan ekonomi kreatif, media komunikasi, diplomasi, serta sarana membangun solidaritas sosial dan kemanusiaan.
Inisiator Diplomasi Budaya Budayantara, **Renee Partina**, menegaskan bahwa rapat kerja ini harus menjadi titik awal untuk melahirkan langkah-langkah nyata dan terukur.Selasa (3/11/2026).
“Budaya tidak boleh hanya berhenti pada seremoni atau pertunjukan. Budaya harus menjadi kekuatan yang mampu menggerakkan masyarakat, membangun karakter generasi bangsa, membuka peluang ekonomi kreatif, sekaligus memperkuat persahabatan dan solidaritas kemanusiaan,” ujar Renee Partina.
Menurut Renee, BUDAYANTARA memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi ekosistem budaya modern yang mampu mempertemukan nilai-nilai tradisi dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat masa kini.
“Melalui Budayantara Pictures, Academy, Lab Digital, dan Production, kita ingin membangun sebuah ekosistem yang saling terhubung. Ada kekuatan cerita, pendidikan, teknologi, kreativitas, dan produksi. Semua harus memiliki arah yang jelas, program yang terukur, serta menghasilkan manfaat nyata,” ungkapnya.
Ia juga menekankan pentingnya membangun kolaborasi lintas sektor, mulai dari komunitas budaya, seniman, akademisi, pelaku industri kreatif, pemerintah, dunia usaha, hingga jaringan internasional.
“Harapan saya, BUDAYANTARA tidak hanya tumbuh sebagai organisasi, tetapi menjadi gerakan bersama. Kita ingin budaya Nusantara semakin dikenal, generasi muda memiliki ruang untuk berkarya, dan diplomasi budaya Indonesia mampu menjangkau masyarakat dunia,” tambah Renee.
### Menyusun Arah dan Masa Depan BUDAYANTARA
Rapat kerja 4–5 November 2026 diharapkan menghasilkan sejumlah keputusan strategis, mulai dari penguatan legalitas dan kelembagaan, penyusunan program kerja, pembagian tugas dan tanggung jawab pengurus, hingga penetapan target serta peta jalan pengembangan organisasi.
Selain itu, penguatan empat unit pengembangan BUDAYANTARA menjadi bagian penting dalam membangun sistem kerja yang profesional dan memiliki orientasi jangka panjang.
Renee berharap seluruh peserta Raker dapat membawa semangat yang sama, yakni membangun organisasi dengan integritas, kreativitas, kolaborasi, dan komitmen terhadap kemajuan budaya Indonesia.
“Ini bukan hanya tentang apa yang akan kita kerjakan hari ini, tetapi tentang warisan dan kontribusi apa yang ingin kita tinggalkan untuk generasi mendatang. Kita harus berani berpikir besar, bekerja bersama, dan menghasilkan karya yang berdampak,” tegasnya.
Melalui Raker ini, BUDAYANTARA ingin menegaskan komitmennya untuk menjadikan budaya sebagai kekuatan strategis dalam membangun identitas bangsa, memperluas ruang kreativitas, serta menghadirkan Indonesia melalui karya dan diplomasi budaya di tingkat nasional maupun internasional.[]
Penulis : Syamsul Arifin
Editor : Gofur









