ETNIKOM.NET, CIREBON – Tradisi pengangkatan Kayu Perbatang Pangeran Mancur Jaya kembali digelar di Situs Balong Kramat Tuk Pangeran Mancur Jaya, Desa Kertawinangun, Kabupaten Cirebon, Rabu (2/9/2026).
Tradisi yang dilaksanakan setiap tanggal 19 Mulud atau 19 Rabiulawal ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Di tengah masyarakat, tradisi tersebut juga menjadi momentum untuk mengenang dan menghormati para leluhur.
Juru Kunci Situs Balong Kramat Pangeran Mancur Jaya, Raden Suparja, mengatakan tradisi Muludan di situs tersebut telah berlangsung secara turun-temurun sejak 1965.
“Tradisi Muludan ini kami laksanakan setiap tahun dari tahun 1965. Setiap tanggal 19 Mulud atau 19 Rabiulawal kami mengadakan acara ini,” kata Raden Suparja.
Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya diikuti masyarakat Desa Kertawinangun. Warga dari berbagai daerah turut datang untuk mengikuti dan menyaksikan rangkaian tradisi yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.
Salah satu prosesi utama adalah pengangkatan Kayu Perbatang yang berada di dalam kolam. Prosesi diawali dengan azan dan ikamah, kemudian kayu diangkat oleh tujuh orang yang merupakan keturunan Pangeran Mancur Jaya.
Setelah berhasil diangkat, Kayu Perbatang diterima oleh lima orang untuk kemudian dimandikan bersama-sama oleh masyarakat.
Usai dimandikan, kayu tersebut ditempatkan di depan rumah juru kunci untuk disemayamkan hingga malam hari.
Pada saat itulah masyarakat berdatangan membawa sekar atau bunga. Mereka juga melakukan ngarwah sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur yang diyakini menjadi bagian dari asal-usul masyarakat.
“Setelah dinaikkan dan dimandikan, kayu langsung disemayamkan di depan rumah juru kunci. Semuanya menghargai dan menghormati dengan memberikan sekar dan ngarwah leluhur,” ujar Raden Suparja.
Selama Kayu Perbatang disemayamkan, sejumlah rangkaian tradisi dilakukan masyarakat, di antaranya tabur bunga, ngarwah, hingga membakar kemenyan.
Prosesi kemudian dilanjutkan dengan pengembalian Kayu Perbatang pada sekitar pukul 23.00 WIB. Tahapannya kembali dilakukan sebagaimana prosesi pengangkatan, hingga kayu dikembalikan ke tempat semula.
Bagi masyarakat setempat, Kayu Perbatang memiliki makna tersendiri. Kayu tersebut dikenal sebagai Buyut Kayu Perbatang Pangeran Mancur Jaya dan sejak dahulu juga disebut sebagai Buyut Kayu Mati.
Selain mengikuti prosesi utama, masyarakat yang datang ke situs juga mengambil air dari lokasi tersebut. Air itu dipercaya memiliki nilai keberkahan dan digunakan masyarakat untuk berbagai keperluan.
“Karena mereka ingin sawahnya subur. Biasanya juga untuk obat bagi yang sakit,” tutur Raden Suparja.
Ia menambahkan, berdasarkan cerita yang diwariskan secara turun-temurun, Kayu Perbatang dipercaya berkaitan dengan peninggalan Mbah Kuwu Cirebon Pangeran Cakrabuana.
Pada masa Pangeran Mancur Jaya, kayu tersebut kemudian ditemukan kembali. Dalam kisah yang berkembang di masyarakat, kayu itu diketukkan ke tanah hingga kemudian dipercaya memunculkan sumber mata air.
Hingga kini, tradisi pengangkatan dan pengembalian Kayu Perbatang tetap dipertahankan masyarakat Kertawinangun.
Bukan sekadar ritual tahunan, tradisi 19 Mulud di Situs Balong Kramat Tuk Pangeran Mancur Jaya menjadi ruang bertemunya nilai keagamaan, penghormatan terhadap leluhur, sejarah lokal, dan kebersamaan masyarakat.
Di tengah perubahan zaman, masyarakat masih menjaga tradisi tersebut sebagai warisan budaya yang terus dikenalkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.









