ETNIKOM.NET, JAKARTA — Di sudut-sudut kampung tua Jakarta, azan magrib bukan sekadar penanda waktu berbuka. Ia adalah panggilan untuk berkumpul, menautkan silaturahmi, dan menghidupkan kembali tradisi kuliner yang diwariskan turun-temurun.
Bagi masyarakat Betawi, meja berbuka bukan hanya soal mengenyangkan perut setelah seharian berpuasa, tetapi juga merawat identitas dan ingatan kolektif.
Tradisi itu tampak sejak takjil pertama disajikan.
Es selendang mayang menjadi pembuka yang kerap hadir dengan warna-warni cerah dan rasa manis legit dari gula merah dan santan. Kue ape dan kue cucur pun tak pernah absen, menghadirkan rasa sederhana yang sarat nostalgia pasar kampung tempo dulu.
Memasuki hidangan utama, sajian bersantan dan kaya rempah menjadi ciri kuat kuliner Betawi. Sayur babanci tampil sebagai menu istimewa dengan kuah santan kental dan daging sapi yang empuk.
Semur daging Betawi dengan perpaduan kecap manis dan rempah hangat menjadi pasangan setia nasi uduk yang gurih dan harum.
Di antara hidangan-hidangan berat itu, sayur goreng asem hadir sebagai penyeimbang sekaligus penguat cita rasa. Berbeda dengan sayur asem biasa yang cenderung ringan, versi goreng asem khas Betawi memiliki kuah lebih pekat dan rasa asam-gurih yang lebih tajam.
Isinya pun tidak sederhana. Selain kacang panjang, labu siam, jagung muda, dan melinjo, sajian ini kerap diperkaya dengan sanding lamur—potongan bagian daging sapi yang memiliki sedikit lapisan lemak sehingga terasa gurih—serta irisan daging sapi yang dimasak hingga empuk.
Kombinasi ini membuat sayur goreng asem bukan hanya pelengkap, melainkan lauk yang mengenyangkan dan berkarakter kuat dan nikmat.
Rasa asamnya yang segar berpadu dengan gurih kaldu daging, menciptakan keseimbangan di tengah dominasi santan dan rempah pada menu lainnya.
Dalam tradisi Betawi, hidangan ini kerap dimasak untuk momen kebersamaan keluarga besar, termasuk saat Ramadan.
Sebagai penyegar tambahan, asinan Betawi kerap melengkapi santap. Di ujung acara, dodol Betawi menutup kebersamaan dengan rasa manis pekat yang identik dengan syukur dan perayaan.
Menu berbuka ala Betawi, pada akhirnya, bukan hanya soal ragam hidangan. Ia adalah cerita tentang rumah, tentang Jakarta yang tumbuh dari percampuran budaya, dan tentang tradisi yang terus bertahan di tengah arus modernisasi.
Setiap suapan saat magrib tiba bukan hanya menghapus lapar, tetapi juga merawat akar—bahwa di balik rasa, ada sejarah dan kebersamaan yang tak lekang oleh waktu.[]









