ETNIKOM.NET, KOTA CIREBON – Panglima Laskar Macan Ali Nuswantara, Prabu Diaz, turut mendampingi Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadly Zon, dalam pembukaan Festival Komunitas Seni Media (FKSM) 2025 yang digelar di kawasan Pelabuhan Cirebon.
Pada kesempatan itu, Prabu Diaz memberikan penjelasan mengenai instalasi karya Mas Gufron asal Pasuruan yang mengangkat tema Duaja (Bendera) Macan Ali, simbol kebesaran Kesultanan Cirebon yang sarat nilai sejarah, filosofi, dan spiritualitas.
Prabu Diaz menjelaskan bahwa Duaja Macan Ali adalah ikon perjuangan dan identitas budaya Cirebon yang telah diwariskan sejak masa para leluhur. Ia menegaskan bahwa beberapa peninggalan penting terkait duaja ini masih tersimpan di berbagai lembaga nasional dan internasional.
“Salah satu Duaja Macan Ali asli peninggalan Kesultanan Cirebon yang berusia ratusan tahun kini berada di Museum Leiden, Belanda, setelah diambil oleh penjajah pada masa kolonial,” jelas Prabu Diaz.
Ia menambahkan bahwa berbagai pihak di Cirebon tengah berupaya mendorong proses pemulangan atau repatriasi bendera Macan Ali dari Museum Leiden ke tanah kelahirannya sebagai bentuk pelestarian dan penghormatan terhadap sejarah Kesultanan Cirebon.
“Bendera itu bukan sekadar kain simbol, tetapi bagian dari martabat dan perjalanan panjang Cirebon. Kami berharap duaja tersebut dapat kembali ke Cirebon sebagai warisan budaya leluhur,” tambahnya.
Prabu Diaz sangat apresiasi terkait pemilihan Pelabuhan Cirebon sebagai lokasi FKSM 2025 juga memiliki makna historis khusus. Pelabuhan sejak dahulu menjadi pusat perdagangan internasional dan pintu masuk interaksi budaya di wilayah pesisir Jawa.
“Cirebon sejak dulu kota niaga dan kota budaya. Pelabuhan ini adalah saksi sejarah keterbukaan Cirebon terhadap gagasan dan seni Nusantara,” ujar Prabu Diaz.
FKSM 2025 menghadirkan instalasi seni, pameran budaya, dan pertunjukan dari berbagai daerah, menegaskan kembali peran Cirebon sebagai ruang pertemuan budaya Nusantara.









