ETNIKOM.NET, KUNINGAN ,– Potensi ekonomi Desa Jagara, Kabupaten Kuningan, mulai mendapat perhatian serius Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Cirebon. Desa yang dikenal memiliki potensi wisata tersebut didorong menjadi salah satu contoh pengembangan ekosistem keuangan inklusif di tingkat desa.
Bukan sekadar membuka akses pinjaman, program ini dirancang untuk menghubungkan berbagai potensi ekonomi masyarakat dengan layanan keuangan formal, mulai dari pembiayaan UMKM, digitalisasi QRIS, agen perbankan, tabungan pelajar hingga tabungan emas.
Kepala OJK Cirebon, Agus Muntholib, menyebut Desa Jagara memiliki modal ekonomi yang cukup lengkap. Selain pariwisata, terdapat UMKM, perikanan dan berbagai aktivitas ekonomi masyarakat yang masih bisa dikembangkan.
“Kami melihat ini potensi yang luar biasa. Fenomena atau kultur masyarakat di sini tidak hanya dari sektor UMKM, tetapi juga ada perikanan. Karena itu, kami ingin mendorong agar potensi tersebut dapat berkembang melalui akses keuangan yang lebih baik,” ujar Agus. Rabu (23/9/26).
230 Pelaku Usaha Jadi Perhatian
Salah satu persoalan yang ingin dijawab OJK adalah akses permodalan. Dari sekitar 230 pelaku usaha yang terdata di Desa Jagara, sebagian dinilai memiliki potensi untuk berkembang, namun masih menghadapi kendala dalam memperoleh pembiayaan.
Menurut Agus, kondisi tersebut menunjukkan masih adanya jarak antara potensi ekonomi masyarakat dengan akses terhadap layanan keuangan.
“Berarti ada gap. Mereka tidak bisa mengakses karena tidak mengetahui informasinya atau memang ada kendala lain yang perlu mendapatkan sentuhan dari OJK,” jelasnya.
Karena itu, OJK akan mendorong keterlibatan berbagai lembaga jasa keuangan, mulai dari bank umum, BPR, Pegadaian, PNM hingga lembaga keuangan mikro.
Dari QRIS sampai Tabungan Pelajar
Penguatan ekonomi Desa Jagara juga tidak hanya berbicara soal modal.
OJK mendorong pelaku UMKM dan unit usaha BUMDes menggunakan QRIS sebagai bagian dari digitalisasi transaksi.
Di sisi lain, masyarakat juga akan didorong lebih dekat dengan layanan perbankan melalui agen Laku Pandai, sehingga transaksi dan layanan keuangan bisa dilakukan lebih mudah di lingkungan desa.
Program tersebut bahkan menyasar anak-anak sekolah.
OJK mendorong perluasan Simpanan Pelajar (SimPel) agar pelajar di Desa Jagara mulai mengenal budaya menabung sejak dini.
“Tidak hanya akses pembiayaan, tetapi juga akses terhadap simpanan,” kata Agus.
Peluang kolaborasi dengan Pegadaian juga disiapkan untuk memperkenalkan tabungan emas kepada masyarakat. Bahkan, konsep tersebut berpotensi dikembangkan dengan program bank sampah, sehingga sampah bernilai ekonomi dapat diarahkan menjadi bentuk tabungan sesuai mekanisme yang tersedia.
Wisata Didorong Jadi Mesin Ekonomi
Bagi OJK, penguatan keuangan tidak bisa dipisahkan dari pengembangan sektor pariwisata.
Semakin dikenal Desa Jagara sebagai destinasi wisata, semakin besar peluang wisatawan datang. Pergerakan wisatawan tersebut diharapkan ikut menghidupkan UMKM, perdagangan, jasa dan sektor ekonomi masyarakat lainnya.
Agus pun mengajak media ikut memperkenalkan berbagai potensi Desa Jagara kepada masyarakat luas.
“Dengan semakin banyak informasi mengenai potensi desa ini, pada akhirnya akan mendatangkan wisatawan. Dampaknya, pertumbuhan ekonomi di Desa Jagara dapat terus optimal,” ungkapnya.
Program ini akan dijalankan melalui kolaborasi lintas sektor, melibatkan pemerintah desa, Dinas Pariwisata, Dinas Perikanan dan Pertanian serta BUMDes.
Targetnya bukan sekadar desa yang memiliki potensi, tetapi desa yang mampu mengubah potensi tersebut menjadi aktivitas ekonomi, meningkatkan pendapatan masyarakat, sekaligus membangun budaya keuangan yang lebih inklusif.









