ETNIKOM.NET, CIREBON — Upaya membangun budaya literasi di kalangan pelajar terus dilakukan SMPN 2 Suranenggala, Kabupaten Cirebon. Salah satunya melalui program “Sabtu Membaca” (Readathon) yang dikemas secara menarik dan interaktif dengan menghadirkan pendongeng anak, Kak Jums.Sabtu (5/9/26).
Kegiatan yang berlangsung di panggung terbuka SMPN 2 Suranenggala tersebut diikuti antusias oleh para siswa. Dengan mengenakan seragam Pramuka, mereka duduk lesehan di atas terpal oranye sembari menyimak materi literasi dan dongeng yang disampaikan Kak Jums.
Kepala SMPN 2 Suranenggala, Hj. Tri Gayati, S.Pd., M.M., menyambut baik kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya sekolah dalam memperkuat budaya membaca sekaligus meningkatkan kreativitas dan karakter peserta didik.
Kehadiran Kak Jums membuat suasana semakin hidup. Dengan gaya khas, humoris, dan komunikatif, ia mengajak siswa tidak hanya mendengarkan cerita, tetapi juga berinteraksi dan memahami pesan moral yang terkandung dalam setiap dongeng.
Menurut Kak Jums, kegiatan literasi seperti “Sabtu Membaca” memiliki peran penting dalam membangun kebiasaan positif siswa.
“Saya sangat mengapresiasi kegiatan ini karena sangat penting bagi siswa untuk belajar literasi, salah satunya melalui mendongeng. Mendongeng bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga bisa menjadi budaya yang memiliki nilai pendidikan dan menjadi media untuk pembentukan karakter anak,” ujar Kak Jums.
Ia menilai dongeng dapat menjadi sarana yang menyenangkan untuk mengenalkan berbagai nilai kehidupan kepada anak-anak dan remaja.
“Melalui dongeng, kita bisa menyampaikan pesan tentang kejujuran, tanggung jawab, sopan santun, keberanian, kepedulian, dan nilai-nilai kebaikan lainnya. Anak-anak belajar tanpa merasa sedang digurui,” katanya.
Kak Jums berharap kegiatan membaca dan mendongeng dapat terus dilakukan secara berkelanjutan di lingkungan sekolah.
“Saya berharap budaya membaca dan mendongeng terus hidup di sekolah. Karena ketika membaca dan mendengarkan cerita menjadi kebiasaan, anak-anak bukan hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga mendapatkan bekal karakter untuk kehidupan mereka,” tambahnya.
Di tengah kegiatan, sejumlah siswa juga tampak membaca buku yang mereka bawa. Hal tersebut menjadi bagian dari semangat Readathon untuk membiasakan siswa berinteraksi langsung dengan bahan bacaan.
Program “Sabtu Membaca” diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi berkembang menjadi budaya sekolah yang mampu menumbuhkan minat baca, daya kritis, kreativitas, serta membentuk generasi muda yang cerdas dan berkarakter.
Kegiatan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa membangun budaya literasi dapat dilakukan dengan berbagai cara yang menyenangkan, termasuk melalui kekuatan cerita dan dongeng.









