Penulis: Furqon Bunyamin Husein | Anggota Persaudaraan Jurnalis Muslim Indonesia (PJMI)
ETNIKOM. NET, JAKARTA – Setiap Hari Raya Idul Fitri tiba, jutaan umat Islam di Indonesia saling mengucapkan kalimat yang sama: “Minal Aidin Al Faaizin.” Kalimat ini terdengar di masjid, di rumah-rumah, di pesan singkat, hingga memenuhi berbagai unggahan di media sosial.
Ironisnya, meskipun begitu populer dan diucapkan hampir oleh seluruh umat Islam di negeri ini, tidak sedikit yang sebenarnya belum memahami makna serta cara pengucapan yang benar dari kalimat tersebut.
Bahkan dalam praktiknya, ucapan ini sering berubah bunyi menjadi “Minal aidzin wal faidzin”, yang sebenarnya tidak sesuai dengan bentuk aslinya dalam bahasa Arab.
Fenomena ini menarik untuk dicermati. Di satu sisi, ia menunjukkan betapa kuatnya tradisi Idul Fitri dalam kehidupan masyarakat Muslim Indonesia.
Namun di sisi lain, ia juga memperlihatkan bahwa dalam banyak hal, kita sering kali lebih terbiasa menghafal bunyi suatu ungkapan daripada memahami asal-usul bahasanya.
Padahal memahami makna dari ucapan yang kita gunakan justru akan membuat tradisi tersebut menjadi lebih bermakna.
Tulisan Arab yang Benar
Dalam bahasa Arab, kalimat tersebut ditulis sebagai berikut:
مِنَ العَائِدِينَ الفَائِزِينَ
Dibaca Min al-‘āidīn al-fāizīn
Dalam pengucapan sehari-hari di Indonesia biasanya disederhanakan menjadi Minal Aidin Al Faaizin.
Kalimat ini merupakan doa yang bermakna: “Semoga kita termasuk orang-orang yang kembali (kepada fitrah) dan termasuk orang-orang yang memperoleh kemenangan.”
Kata العَائِدِينَ (al-‘āidīn) berasal dari kata kerja عاد – يعود yang berarti kembali.
Dalam konteks Idul Fitri, kata ini dimaknai sebagai kembali kepada fitrah, yakni keadaan suci setelah menjalani ibadah puasa Ramadan.
Sementara kata الفَائِزِينَ (al-fāizīn) berasal dari kata فاز – يفوز, yang berarti menang atau memperoleh kemenangan.
Dalam khazanah bahasa Arab klasik, kata fāiz sering digunakan untuk menggambarkan orang yang berhasil meraih keselamatan atau keberuntungan.
Hal ini juga dapat ditemukan dalam Al-Qur’an, misalnya pada Surah Ali Imran ayat 185, yang menyebutkan bahwa orang yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga adalah orang-orang yang beruntung (al-fāizūn).
Kesalahan Pengucapan yang Terlanjur Populer
Kesalahan lain yang sering terjadi dalam pengucapan kata pada huruf د (dal) dalam kata: العَائِدِينَ (al-‘āidīn). Huruf dal (د) dalam bahasa Arab dibaca “d”, bukan “dz.”
Namun karena kebiasaan lisan yang salah dan elah berkembang di masyarakat, huruf tersebut sering berubah bunyi menjadi “dz”, sehingga kata Aidin berubah menjadi Aidzin.
Akibatnya ucapan yang sering terdengar di masyarakat adalah: “Minal aidzin wal faaizin.”
Padahal secara kaidah bahasa Arab perubahan bunyi ini tidak tepat, karena huruf dal (د) berbeda dengan huruf dzal (ذ).
Dalam ilmu tajwid dan fonologi bahasa Arab, setiap huruf memiliki makhraj (tempat keluarnya huruf) yang berbeda.
Penjelasan mengenai hal ini dapat ditemukan dalam kitab tajwid klasik seperti Al-Jazariyyah karya Imam Ibnu Al-Jazari, yang menekankan pentingnya menjaga ketepatan bunyi huruf dalam bahasa Arab.
Koreksi lain dalam pengucapan huruf yang sebenarnya tidsk ada di dalam bahasa Arab dengan penambahan Huruf “Wawu” yang salah.
Selain kesalahan pada pengucapan huruf dal, kekeliruan lain yang cukup sering terjadi adalah penambahan huruf “wawu” (و) sehingga ucapan tersebut berubah menjadi: “Minal aidzin wal faidzin.”
Padahal dalam susunan kalimat aslinya, ungkapan tersebut tidak menggunakan huruf wawu (و) sebagai kata sambung.
Bentuk yang benar dalam bahasa Arab tetap: مِنَ العَائِدِينَ الفَائِزِينَ Min al-‘āidīn al-fāizīn
Dalam struktur kalimat ini, kata العَائِدِينَ (al-‘āidīn) dan الفَائِزِينَ (al-fāizīn) merupakan bagian dari satu rangkaian doa, sehingga tidak memerlukan kata sambung “dan” (و / wawu).
Karena itu, bentuk yang lebih tepat adalah: Minal Aidin Al Faaizin bukan Minal Aidzin wal Faidzin.
Penambahan kata “wal” sebenarnya merupakan pergeseran bunyi yang berkembang dalam tradisi lisan masyarakat, bukan berasal dari struktur asli bahasa Arabnya.
Bukan Hadits Nabi
Hal lain yang juga perlu dipahami adalah bahwa kalimat “Minal Aidin Al Faaizin” bukanlah hadits Nabi Muhammad SAW.
Kalimat ini lebih merupakan ungkapan doa yang berkembang dalam tradisi masyarakat Muslim, khususnya di kawasan Timur Tengah.
Adapun ucapan yang diriwayatkan dari para sahabat Nabi ketika hari raya adalah: تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنكُمْ
Taqabbalallāhu minnā wa minkum. Artinya: “Semoga Allah menerima amal ibadah dari kami dan dari kalian.”
Sebagaimana dijelaskan oleh ulama hadits Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari, ucapan tersebut diriwayatkan sebagai bentuk saling mendoakan di antara para sahabat pada hari raya.
Penjelasan serupa juga disebutkan oleh ulama fikih Ibnu Qudamah dalam kitab Al-Mughni, yang menyatakan bahwa saling mengucapkan doa kebaikan pada hari raya merupakan tradisi yang dibolehkan dalam Islam.
Perpaduan Islam dan Budaya Nusantara
Menariknya, di Indonesia ucapan Idul Fitri hampir selalu disertai dengan kalimat: “Mohon maaf lahir dan batin.”
Ungkapan ini bukan berasal dari bahasa Arab, melainkan lahir dari kearifan budaya Nusantara yang menjunjung tinggi nilai saling memaafkan.
Karena itu, ucapan “Minal Aidin Al Faaizin, mohon maaf lahir dan batin” pada akhirnya menjadi perpaduan yang indah antara doa dalam bahasa Arab dan nilai budaya Indonesia.
Merawat Tradisi dengan Ilmu
Tradisi saling berjabat tangan, meminta maaf, dan saling mendoakan pada Hari Raya Idul Fitri merupakan kekayaan budaya umat Islam yang sangat berharga. Tradisi ini memperkuat ukhuwah dan mempererat hubungan sosial di tengah masyarakat.
Namun tradisi yang baik akan menjadi lebih bermakna jika dibarengi dengan pemahaman yang benar terhadap ucapan yang digunakan, baik dari segi makna maupun cara pengucapannya.
Dengan memahami asal-usulnya, ucapan “Minal Aidin Al Faaizin” tidak lagi sekadar menjadi kalimat yang diulang setiap tahun, tetapi benar-benar menjadi doa yang dipahami dan dihayati oleh setiap Muslim yang mengucapkannya.
Pada akhirnya, Idul Fitri bukan sekadar perayaan kemenangan setelah Ramadan. Ia adalah momentum untuk kembali kepada kesucian, memperbaiki hubungan antarsesama manusia, serta memperkuat persaudaraan umat.
Semoga tulisan ini membuka ruang pemikian kita untuk memperbaiki ucapan doa tersebut tanpa mengulangi kesalahan.-[]









