Astana Maqbaroh Kramat Gede Makam Tengah: Jejak Wali, Tradisi, dan Sejarah Islam di Kadupinang Pandeglang - PT. Etnikom Persada Raya

Astana Maqbaroh Kramat Gede Makam Tengah: Jejak Wali, Tradisi, dan Sejarah Islam di Kadupinang Pandeglang

- Redaksi

Jumat, 21 November 2025 - 09:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

ETNIKOM.NET, PANDEGLANG – Kali ini Tim budaya Etnikom net mengunjungi sebuah situs Kramat di wilayah Banten, teoatnya di Pandeglang, Jumat (21/11/2025). Tujuan perjalanan ini Untuk menggali dan mengetahui perjalanan dakwah para ulama Banten dan Pandeglang di masa lalu.

Pandeglang selama ini dikenal sebagai salah satu pusat persemaian dakwah Islam di Jawa Barat. Selain memiliki sejarah panjang perkembangan pesantren dan ulama-ulama besar, daerah ini juga menyimpan banyak situs religi yang menjadi penanda kuatnya tradisi Islam di Banten.

Salah satu yang kini banyak dikunjungi adalah Astana Maqbaroh Kramat Gede Makam Tengah, yang berada di Kadupinang, Pandeglang.

Lokasinya yang berada di tengah pedesaan, Kelurahan Kadunghejo ini memberi suasana tenang dan kontemplatif, menjadikan komplek makam ini sebagai salah satu tujuan ziarah penting masyarakat Banten dan luar daerah.

Untuk peziarah Astana Maqbaroh Kramat Gede Makam Tengah ini tidak perlu khawatir dengan makan dan minum karena persis di depan Astana terdapat semacam kafe sederhana yang menyiapkan hidangan beragam jenis roti dan kopi milik ustadz Shoffan yang dibandrol dengan harga murah.

Sejarah Singkat dan Asal-Usul

Masyarakat setempat mengenal Kramat Gede Makam Tengah sebagai kompleks makam ulama penyebar Islam pada masa awal perkembangan Islam di wilayah Pandeglang.

Meski catatan tertulis tidak banyak ditemukan, tradisi lisan desa Kadupinang menyebutkan bahwa kompleks ini sudah berusia ratusan tahun dan menjadi pusat penyebaran ilmu agama pada masa para jawara dan kyai karismatik Banten.

Baca Juga :  33 Tahun Sanggar Sekar Pandan: Panggung Seni, Anugerah Persaudaraan, dan Apresiasi Budaya

Beberapa sumber lokal menyebut bahwa tokoh yang dimakamkan di kawasan ini adalah bagian dari jaringan ulama Banten tempo dulu, yang turut berperan menyebarkan syiar Islam, membina masyarakat, dan menjadi mediator penyelesaian sengketa adat.

Karena perannya yang besar bagi masyarakat, makam tersebut kemudian dihormati dan diberi sebutan “Kramat Gede”, menandakan tingginya kedudukan spiritual tokoh tersebut di mata masyarakat.

Keunikan Kompleks Makam

1. Struktur Makam Tua

Batu nisan dan struktur makam di kawasan ini menunjukkan gaya lama, khas makam ulama abad ke-17–18. Bentuk nisan ukiran klasik menjadi bukti bahwa tokoh-tokoh yang dimakamkan memiliki peran penting dalam masyarakat.

2. Suasana Religius dan Sejuk

Terletak di area yang teduh dengan pepohonan besar, kawasan ini menyajikan suasana yang menenangkan. Potret alam pedesaan Pandeglang menambah kekhusyukan para peziarah yang datang untuk tahlil, berdoa, dan mengenang jasa ulama terdahulu.

3. Tradisi Ziarah yang Terjaga

Setiap menjelang bulan Ramadan, Maulid Nabi, hingga malam Jumat, lokasi ini ramai dikunjungi jamaah dari berbagai kecamatan. Masyarakat datang tidak sekadar berziarah, tetapi sekaligus menjalin silaturahim dan menjaga tradisi Islam yang diwariskan para kyai.

Peran Sosial–Keagamaan dalam Masyarakat

Kramat Gede Makam Tengah bukan sekadar lokasi pemakaman, tetapi menjadi simbol:

1. Pengikat Identitas Keislaman Masyarakat Banten

Keberadaan maqbaroh ini menunjukkan bagaimana kuatnya Islam berdiri sebagai fondasi kehidupan sosial masyarakat Pandeglang sejak masa lampau.

2. Tempat Belajar Spiritual

Banyak tokoh agama mengajak santrinya datang ke sini untuk mengajarkan adab ziarah, mengenal sejarah ulama setempat, serta mengingatkan bahwa perjuangan dakwah membutuhkan kesabaran dan keikhlasan.

Baca Juga :  Hari Jadi Cirebon ke-598, Iing Daiman: Bukan Sekadar Pesta, Tapi Momentum Refleksi dan Kolaborasi

3. Ruang Silaturahmi Antarwarga

Ritual ziarah bersama sering menjadi momen mempererat hubungan masyarakat lintas desa, menjaga kerukunan, dan menghindarkan konflik sosial.

Upaya Pelestarian dan Tantangan

Meski dihormati, kawasan Astana Maqbaroh ini masih membutuhkan:

Perbaikan akses jalan
Beberapa bagian menuju komplek makam masih kurang memadai.

Penataan lingkungan makam
Agar tetap rapi dan layak dikunjungi, harus dilakukan gotong royong rutin atau dukungan pemerintah desa.

Pendokumentasian sejarah
Belum adanya catatan tertulis membuat sejarah Maqbaroh sangat bergantung pada tuturan lisan. Hal ini membuka peluang bagi akademisi atau budayawan untuk melakukan penelitian lebih mendalam.

Datang ke Kramat Gede Makam Tengah bukanlah melakukan praktik berlebihan, tetapi sebagai bentuk mengingat kematian, merenungi makna perjuangan ulama terdahulu, meneladani akhlak dan kesederhanaan mereka dan enguatkan hubungan dengan masyarakat sekitar.

ingatlah bahwa “Ziarah yang benar bukan meminta kepada yang mati, tetapi mendoakan mereka dan memetik hikmah dari jejak perjuangannya.”

Astana Maqbaroh Kramat Gede Makam Tengah di Kadupinang Pandeglang adalah warisan sejarah Islam yang penting. Ia bukan sekadar tempat berziarah, tetapi pengingat bahwa syiar Islam di Banten dibangun melalui perjuangan panjang para ulama yang bekerja dengan keikhlasan.

Melestarikan tempat ini bukan hanya tugas masyarakat Kadupinang, tetapi menjadi bagian dari merawat memori kolektif umat Islam atas para pendakwah yang telah memberikan cahaya bagi generasi-generasi sesudahnya.[]

Penulis : Gofur

Berita Terkait

Menggali Akar Budaya Betawi: Campuran Budaya Arab, Tionghoa, India, Belanda dan Portugis
Prabu Diaz Dampingi Menteri Kebudayaan RI dalam FKSM 2025 di Pelabuhan Cirebon
Sekjen Herman Khaeron Dukung Pelestarian Budaya Lewat Pagelaran Wayang Kulit di Keraton Kanoman
Borobudur Writers & Cultural Festival ke-14 Hadir di Cirebon: Menggali Estetika Nisan Islam dan Dunia Tasawuf Syattariyah
Bengawan Solo: Sungai Legendaris, Saksi Peradaban Nusantara
Batik Putra Bengawan: Warisan Laweyan yang Menjaga Tradisi di Tengah Modernitas
Keraton Surakarta: Warisan Adiluhung yang Menjaga Marwah Budaya Jawa
IICF 2025: Merajut Harmoni Budaya dari Nusantara untuk Dunia
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 21 November 2025 - 09:54 WIB

Astana Maqbaroh Kramat Gede Makam Tengah: Jejak Wali, Tradisi, dan Sejarah Islam di Kadupinang Pandeglang

Kamis, 20 November 2025 - 10:29 WIB

Menggali Akar Budaya Betawi: Campuran Budaya Arab, Tionghoa, India, Belanda dan Portugis

Selasa, 18 November 2025 - 17:20 WIB

Prabu Diaz Dampingi Menteri Kebudayaan RI dalam FKSM 2025 di Pelabuhan Cirebon

Minggu, 16 November 2025 - 07:29 WIB

Sekjen Herman Khaeron Dukung Pelestarian Budaya Lewat Pagelaran Wayang Kulit di Keraton Kanoman

Rabu, 12 November 2025 - 11:18 WIB

Borobudur Writers & Cultural Festival ke-14 Hadir di Cirebon: Menggali Estetika Nisan Islam dan Dunia Tasawuf Syattariyah

Berita Terbaru