Budaya Brunei Darussalam: Harmoni Islam dan Tradisi Melayu - PT. Etnikom Persada Raya

Budaya Brunei Darussalam: Harmoni Islam dan Tradisi Melayu

- Redaksi

Selasa, 7 Oktober 2025 - 17:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

ETNIKOM.NET, JAKARTA — Brunei Darussalam dikenal sebagai salah satu negara terkecil namun paling makmur di Asia Tenggara. Terletak di utara Pulau Kalimantan, negara ini memiliki kekayaan minyak dan gas bumi yang luar biasa.

Namun, di balik kemakmurannya, Brunei juga memiliki kekayaan budaya yang sangat kental, berakar dari nilai-nilai Islam dan warisan Melayu yang terjaga hingga kini.

1. Identitas Melayu Islam Beraja (MIB)

Budaya Brunei tidak bisa dilepaskan dari falsafah nasionalnya, yaitu Melayu Islam Beraja (MIB). Konsep ini menjadi dasar kehidupan sosial, politik, dan budaya masyarakat Brunei.

Melayu menegaskan identitas etnis dan adat istiadat bangsa Brunei.

Islam menjadi pedoman hidup dan sumber nilai moral masyarakat.

Beraja menandakan sistem monarki konstitusional yang dipimpin oleh Sultan sebagai kepala negara sekaligus pelindung agama.

Melalui MIB, Brunei menjaga keseimbangan antara modernisasi dan pelestarian nilai-nilai tradisional.

2. Adat dan Tradisi

Adat istiadat Brunei mencerminkan kesopanan dan kehormatan yang tinggi. Dalam berbagai acara adat, seperti majlis perkahwinan (upacara pernikahan) atau majlis bersiram (mandi adat sebelum pernikahan), masyarakat masih menjaga tata cara tradisional Melayu.

Baca Juga :  Makara Art Center UI, Komoenitas Makara, dan Urban Spiritual Indonesia Persembahkan Majelis Nyala Purnama

Upacara adat biasanya diiringi dengan musik tradisional seperti gendang labik, hadrah, dan dikir, yang menggambarkan kegembiraan dan doa keselamatan.

3. Seni dan Kesenian Tradisional

Kesenian Brunei berkembang sejalan dengan nilai-nilai Islam. Seni tari seperti Aduk-Aduk, Jipin, dan Leleng sering dipentaskan dalam acara kenegaraan atau perayaan adat. Tari-tarian ini menggambarkan semangat kebersamaan dan rasa syukur.

Selain itu, kerajinan tangan seperti anyaman pandan, ukiran kayu, dan kain jong sarat—kain tenun khas Brunei yang sering digunakan dalam upacara adat—menjadi simbol kemahiran dan ketelitian pengrajin lokal.

4. Bahasa dan Sastra

Bahasa resmi Brunei adalah Bahasa Melayu Brunei, yang mirip dengan Bahasa Melayu Malaysia namun memiliki dialek dan kosakata khas. Sastra lisan seperti pantun, peribahasa, dan cerita rakyat masih sering dijaga, menjadi media penyampaian nilai moral dan kebijaksanaan hidup dari generasi ke generasi.

5. Nilai Religius dan Kehidupan Sosial

Sebagai negara Islam, kehidupan masyarakat Brunei sangat diwarnai oleh ajaran agama. Masjid menjadi pusat kegiatan sosial, bukan hanya tempat ibadah. Pakaian juga mencerminkan kesopanan: laki-laki memakai baju cara Melayu dan songkok, sementara perempuan mengenakan baju kurung dengan tudung.

Baca Juga :  225 Penyair dari Dalam dan Luar Negeri Hadiri Pertemuan Penyair Nusantara XIII di Jakarta

Hari besar Islam seperti Maulidur Rasul dan Hari Raya Aidilfitri dirayakan secara meriah dengan doa bersama, ziarah keluarga, dan pembagian sedekah.

6. Arsitektur dan Simbol Kebesaran

Bangunan di Brunei menampilkan harmoni antara modernitas dan tradisi. Masjid Omar Ali Saifuddien, misalnya, menjadi ikon arsitektur Islam dengan kubah emas dan desain megah yang mencerminkan kejayaan spiritual dan ekonomi Brunei.

Istana Nurul Iman, kediaman resmi Sultan Brunei, juga menjadi simbol kemakmuran dan kebesaran monarki Islam di Asia Tenggara.

Budaya Brunei Darussalam merupakan perpaduan yang indah antara Islam, adat Melayu, dan nilai kerajaan. Dalam era globalisasi yang serba cepat, Brunei berhasil menjaga jati diri budaya melalui falsafah Melayu Islam Beraja—sebuah model harmoni antara tradisi dan kemajuan yang patut dicontoh oleh bangsa-bangsa lain.

Sumber:

Government of Brunei Darussalam, Ministry of Culture, Youth and Sports, 2023.

Mohd Jamil Al-Sufri, Tamadun Melayu Islam di Brunei Darussalam, Dewan Bahasa dan Pustaka Brunei, 2021.

Oxford Business Group, The Report: Brunei Darussalam 2024.

 

Penulis : Gofur

Berita Terkait

Jejak Nama Jalan Bangka di Pela Mampang*
Laskar Agung Macan Ali Gaungkan Persatuan dan Toleransi di Milad ke-9 di Kota Cirebon
Melihat Lebih Dekat Budaya Melayu di Malaysia
Tradisi Pernikahan Masyarakat Betawi: Harmoni Antara Adat, Islam, dan Keceriaan
Aksara Batak Mendunia: Semangat Generasi Muda Melestarikan Warisan Leluhur Lewat Parsiajaran Marsurat Batak
Colours of Cultures Festival (CoCF) 2025: Melodi Nusantara
Disbudpar Kota Cirebon Fasilitasi Dialog Nama Stasiun , Identitas Lokal Harus Dijaga
Batik Trusmi Kecewa, PT KAI Batalkan Sepihak Kerja Sama Naming Rights Stasiun Cirebon
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 26 Oktober 2025 - 15:25 WIB

Jejak Nama Jalan Bangka di Pela Mampang*

Minggu, 26 Oktober 2025 - 14:34 WIB

Laskar Agung Macan Ali Gaungkan Persatuan dan Toleransi di Milad ke-9 di Kota Cirebon

Rabu, 22 Oktober 2025 - 12:13 WIB

Melihat Lebih Dekat Budaya Melayu di Malaysia

Selasa, 14 Oktober 2025 - 08:06 WIB

Tradisi Pernikahan Masyarakat Betawi: Harmoni Antara Adat, Islam, dan Keceriaan

Selasa, 7 Oktober 2025 - 17:31 WIB

Budaya Brunei Darussalam: Harmoni Islam dan Tradisi Melayu

Berita Terbaru

Budaya

Jejak Nama Jalan Bangka di Pela Mampang*

Minggu, 26 Okt 2025 - 15:25 WIB