Pesan Simbah Pangat tentang Rambut Sewu dan Keselarasan Alam - PT. Etnikom Persada Raya

Pesan Simbah Pangat tentang Rambut Sewu dan Keselarasan Alam

- Redaksi

Rabu, 11 Februari 2026 - 19:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

ETNIKOM.NET, CIREBON, (11/2/26),- Rambut Sewu disebut merupakan laku kuno masyarakat Jawa yang dilakukan saat desa menghadapi pagebluk. Namun, ketika ritual ini disalahgunakan, dampaknya justru membawa malapetaka, seperti hujan keruh, penyakit, dan ketidakharmonisan dengan alam.

Di tengah kesuburan Tanah Jawa, tidak semua wilayah selalu merasakan kondisi yang sama. Ungkapan Gemah Ripah Loh Jinawi menggambarkan negeri yang makmur, hasil bumi berlimpah, dan kehidupan yang tenteram. Namun di bagian selatan Yogyakarta, di daerah berbatu dan kering, musim kemarau terkadang datang terlalu panjang. Tanah mengeras, sumur menyusut, dan sawah berubah menjadi hamparan retak.

Pada masa-masa seperti itulah, para orang tua dulu mengenal sebuah laku kuno yang disebut Rambut Sewu. Rambut Sewu bukan sekadar ritual mencari kesaktian. Menurut cerita para sesepuh, laku ini adalah cara untuk menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan leluhur.

Ritual ini dilakukan ketika desa berada di ambang pagebluk, hujan tak turun berbulan-bulan, panen gagal, dan penyakit datang tanpa sebab.

Dalam ritual itu, rambut, air, kain kafan, dan pohon angsana menjadi simbol penyerahan diri. Bukan untuk memaksa alam, tetapi untuk mengingatkan manusia agar kembali rendah hati dan selaras dengan sekitarnya.

Kisah tentang Rambut Sewu diceritakan Mas Gus kepada teman-temannya saat malam keakraban pada tahun 2008. Cerita itu ia dengar dari kakeknya, Simbah Pangat.

Baca Juga :  Seribu Penari Ayodya Pala Siap Pecahkan Rekor MURI

Mas Gus menuturkannya saat berkumpul bersama teman-temannya di lincak dekat sebuah gubuk kecil dengan penerangan lampu minyak. Udara dingin turun pelan, dan suara serangga malam terdengar lebih jelas dari biasanya.

Mas Gus bercerita tanpa nada menakut-nakuti, seperti sedang mengulang pesan yang pernah ia dengar dari orang tua.

Menurut Mbah Pangat, yang tak lain adalah simbahnya, dahulu Rambut Sewu hanya dilakukan ketika seluruh warga sepakat. Tidak ada niat pribadi, tidak ada ambisi tersembunyi. Semua dilakukan dengan doa, dipimpin sesepuh, dan diakhiri dengan makan bersama sebagai tanda syukur.

Setelah itu, hujan biasanya datang pelan-pelan, tidak deras, tidak merusak. Sawah kembali hijau, penyakit mereda, dan kehidupan berjalan seperti biasa. Namun legenda selalu punya sisi yang jarang diceritakan. Ada masa ketika Rambut Sewu tidak lagi dijalankan untuk keselamatan bersama.

Beberapa orang mencoba melakukannya untuk kepentingan pribadi. Niat yang seharusnya bersih berubah menjadi ambisi. Laku yang mestinya dijaga dalam sunyi dilakukan dengan tergesa, tanpa tuntunan, tanpa restu sesepuh. Sejak saat itu, menurut cerita para orang tua, Rambut Sewu tidak lagi sekadar diminta ia mulai menagih.

Warga desa masih mengingat malam pertama kejanggalan itu muncul. Angin berhenti berembus. Dedaunan angsana tak bergerak, seolah alam menahan napas. Dari arah sungai tercium bau anyir yang tak biasa.

Baca Juga :  Mahasiswi Unibos Raih Penghargaan di ARCH:ID Student Design Competition

Anjing-anjing melolong ke arah rumah pelaku, bukan ke arah hutan. Beberapa orang mengaku mendengar suara seperti rambut diseret di tanah, pelan, panjang, dan tak pernah putus.

Keesokan harinya hujan memang turun, tetapi bukan hujan yang dinanti. Airnya keruh dan terasa pahit. Rambut-rambut halus ditemukan menyumbat parit dan sumur, melilit kaki ternak, bahkan menempel di ambang pintu rumah. Penyakit menyebar tanpa pola. Orang-orang jatuh sakit dengan gejala aneh, seolah tubuh mereka sedang membayar sesuatu yang tidak pernah mereka janjikan.

Para sesepuh akhirnya berkumpul dan mengambil kesimpulan yang sama. Bukan Rambut Sewu yang membawa petaka, melainkan penyalahgunaannya. Ritual yang dilanggar batasnya akan tetap bekerja, tetapi dengan cara yang tak bisa dikendalikan manusia. Alam tidak menolak, ia hanya mengingat. Leluhur tidak marah, mereka hanya menuntut keseimbangan yang pernah dirusak.

Mas Gus menutup ceritanya malam itu dengan tenang. Ia tidak menakut-nakuti, tidak pula melebih-lebihkan. Ia hanya mengulang pesan yang selalu disampaikan Simbah Pangat bahwa setiap laku kuno pada dasarnya adalah pengingat, bukan alat untuk memaksa kehendak.

Selama niatnya dijaga, alam akan bersahabat. Tapi ketika niat itu berubah, manusia sendirilah yang harus menanggung akibatnya.

Berita Terkait

Vokasi Cirebon Latih Penyandang Disabilitas Keterampilan Digital dan Jadi Referensi Nasional
Inspeksi KAIS Jalur Utara di Daop 3 Cirebon Perkuat Kesiapan Angkutan Lebaran 2026
Pembangunan SPPG dan Dukungan Masyarakat Menjadi Kunci Optimalnya Program Makan Bergizi Gratis
Kantor Bersama Baru Unit KNA, Keuangan, dan Aset Pegadenbaruy Hadir Lebih Dekat dengan Masyarakat
OJK Cabut Izin Perumda BPR Cirebon, Simpanan Nasabah Dijamin LPS
DPRD Dorong Penghormatan Tokoh Sejarah Masuk RPJMD–RPJPD, Pelestarian Identitas Cirebon Disorot
Sosialisasi Program MBG Hadir di Desa Kertajaya Cianjur
Sosialisasi Program MBG di Cikarang Barat: Gizi Tepat Dorong Tumbuh Kembang Seseorang
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 11 Februari 2026 - 19:08 WIB

Pesan Simbah Pangat tentang Rambut Sewu dan Keselarasan Alam

Rabu, 11 Februari 2026 - 15:18 WIB

Vokasi Cirebon Latih Penyandang Disabilitas Keterampilan Digital dan Jadi Referensi Nasional

Rabu, 11 Februari 2026 - 15:14 WIB

Inspeksi KAIS Jalur Utara di Daop 3 Cirebon Perkuat Kesiapan Angkutan Lebaran 2026

Selasa, 10 Februari 2026 - 17:40 WIB

Pembangunan SPPG dan Dukungan Masyarakat Menjadi Kunci Optimalnya Program Makan Bergizi Gratis

Senin, 9 Februari 2026 - 18:11 WIB

OJK Cabut Izin Perumda BPR Cirebon, Simpanan Nasabah Dijamin LPS

Berita Terbaru