ETNIKOM.NET, JAKARTA — Di tengah hiruk-pikuk modernisasi Ibu Kota, sosok ulama Betawi tetap menjadi penjaga moral dan ruh keislaman masyarakat. Salah satunya adalah KH. Salman Yahya, tokoh kharismatik asal Pela Mampang, Jakarta Selatan, yang dikenal luas karena keteduhan dakwahnya, kepeduliannya pada pendidikan Islam, serta perannya menjaga tradisi keulamaan Betawi agar tak lekang oleh zaman.
Beliau hidup dalam konsep zuhud yang luar biasa. Masyarakat Pela Mampang dan sekitarnya telah mengenal sosok ulama kharismatis yang tegas dalam Amar ma’ruf nahi munkar.
Lahir dan besar di lingkungan Betawi yang religius, KH. Salman Yahya tumbuh dalam kultur masyarakat yang sarat dengan nilai keislaman dan tradisi keulamaan. Pendidikan agama ia peroleh sejak usia dini di berbagai pesantren, hingga akhirnya menjadi salah satu tokoh yang disegani di kawasan Mampang Prapatan.
Sebagai pengasuh Majelis Ta’lim Salmaniyah di Pela Mampang, beliau dikenal dekat dengan masyarakat. Majelis ini menjadi pusat kegiatan keagamaan warga sekitar, tempat menimba ilmu agama, berdiskusi, dan memperkuat silaturahim antarwarga. KH. Salman kerap menekankan pentingnya keseimbangan antara ibadah ritual dan tanggung jawab sosial.
Dakwah yang Teduh dan Mencerahkan
KH. Salman Yahya dikenal bukan karena suara lantangnya di mimbar, melainkan kelembutan tutur kata dan keluasan ilmunya. Pendekatannya dalam berdakwah selalu menekankan kasih sayang, toleransi, dan keteladanan. Ia sering mengingatkan umat agar tidak mudah menghakimi, serta mengedepankan akhlak dalam berdakwah.
Dalam setiap pengajiannya, beliau mampu memadukan nilai-nilai keislaman klasik dengan konteks kekinian. Tema seperti ukhuwah Islamiyah, keikhlasan dalam beramal, hingga peran umat dalam membangun bangsa menjadi ciri khas kajian beliau.
Ia sering mengutip nasihat para ulama Betawi terdahulu seperti KH. Abdullah Syafi’i dan KH. Ahmad Luthfi Fathullah, menegaskan pentingnya menjaga warisan keilmuan Islam di tanah Betawi.
Pelestari Tradisi dan Pendidikan Islam Betawi
Selain aktif berdakwah, KH. Salman juga dikenal peduli terhadap generasi muda. Ia mendorong anak-anak Betawi agar tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga ilmu umum dan teknologi. Baginya, kemajuan umat hanya bisa dicapai jika pendidikan menjadi fondasi utama.
Majelis yang beliau pimpin tidak hanya menjadi tempat pengajian, tetapi juga ruang pembinaan karakter remaja dan kegiatan sosial, seperti santunan yatim, pembinaan marbot masjid, hingga pelatihan wirausaha berbasis syariah.
KH. Salman kerap bekerja sama dengan tokoh masyarakat dan ormas Islam di Mampang untuk memperkuat solidaritas warga dan memperjuangkan pendidikan Islam yang berakar pada nilai lokal.
Menjaga Kearifan Betawi di Tengah Perubahan Zaman
Sebagai tokoh Betawi asli, KH. Salman Yahya termasuk ulama yang berusaha menjaga identitas budaya Betawi yang islami. Ia percaya, nilai-nilai Betawi sejati—seperti ramah, santun, dan saling menghormati—bersumber dari ajaran Islam.
Beliau juga dikenal suka menghadiri hajatan warga, memimpin doa bersama, dan menjadi rujukan ketika masyarakat menghadapi persoalan sosial atau spiritual.
Dalam banyak kesempatan, KH. Salman mengingatkan bahwa masyarakat Betawi tidak boleh tercerabut dari akar sejarahnya.
Teladan dan Pewaris Dakwah Para Ulama Betawi
Bagi warga Pela Mampang, KH. Salman Yahya bukan hanya seorang ustaz, melainkan guru kampung yang menjadi tempat bertanya tentang agama, kehidupan, bahkan urusan sosial.
Konsistensinya dalam berdakwah puluhan tahun menjadikan beliau salah satu panutan utama di kawasan Mampang dan sekitarnya.
Kini, di usia yang tidak muda, KH. Salman Yahya tetap aktif memberikan ceramah di berbagai majelis dan masjid di Jakarta Selatan. Gaya dakwahnya yang menyejukkan membuat beliau dihormati lintas generasi dan golongan.
Warisan spiritual KH. Salman tidak hanya berupa majelis ta’lim, tetapi juga semangat keikhlasan dan kecintaan kepada umat. Nilai-nilai inilah yang menjadikannya bagian penting dari mozaik ulama Betawi yang tetap eksis di tengah arus zaman.[]
Penulis : Gofur









