ETNIKOM.NET, YOGYAKARTA — Di jantung Kampung Jogokariyan, Mantrijeron, Kota Yogyakarta, berdiri sebuah masjid yang kerap disebut sebagai model ideal pengelolaan rumah ibadah di Indonesia, Masjid Jogokariyan. Bukan hanya tempat ibadah, masjid ini menjelma menjadi pusat dakwah, sosial, dan pemberdayaan ekonomi warga.
Masjid Jogokariyan didirikan pada 20 September 1966, di atas tanah yang kala itu dikenal sebagai wilayah “abangan” dan bahkan pernah menjadi basis simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI). Gagasan pendirian masjid datang dari tokoh masyarakat, termasuk Haji Jazuli, seorang pengusaha batik asal Karangkajen yang prihatin melihat kondisi spiritual warga saat itu.
Masjid diresmikan setahun kemudian, Agustus 1967, oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta. Sejak awal, pengurus menetapkan visi besar: menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan jamaah — dari pendidikan, sosial, hingga ekonomi.
Berbeda dari kebanyakan masjid, Jogokariyan dikenal dengan sistem manajemennya yang profesional dan terbuka. Takmir mengelola kas masjid dengan prinsip nol saldo. Artinya, setiap dana yang masuk harus segera disalurkan untuk kegiatan umat sebelum bulan berganti.
Selain laporan keuangan terbuka, seluruh program disusun melalui musyawarah jamaah, bukan keputusan sepihak. Pengurus juga rutin mendata rumah-rumah di sekitar masjid untuk memastikan tidak ada warga Muslim yang jauh dari kegiatan keagamaan.
Setiap Ramadan, suasana Masjid Jogokariyan berubah menjadi semarak. Ribuan warga memadati area masjid untuk mengikuti kegiatan Kampoeng Ramadhan Jogokariyan. Dari pasar kuliner, kajian tematik, hingga buka puasa bersama ribuan orang — semua digelar tanpa memungut biaya.
Kegiatan ini menjadikan kawasan Jogokariyan sebagai salah satu destinasi wisata religi populer di Yogyakarta. Bahkan, banyak lembaga dan pengurus masjid dari berbagai daerah datang untuk studi banding, belajar bagaimana sebuah masjid bisa menjadi pusat kehidupan masyarakat.
Kini, lingkungan yang dahulu minim kegiatan keislaman berubah menjadi komunitas yang hidup dan mandiri. Warga sekitar terlibat dalam kegiatan pendidikan, koperasi syariah, hingga pelatihan wirausaha berbasis masjid.
Masjid Jogokariyan juga memiliki berbagai fasilitas seperti ruang serbaguna, aula, penginapan dakwah, dan area kajian. Dengan pengelolaan modern dan pelayanan jamaah yang humanis, masjid ini menjadi simbol kebangkitan masyarakat urban berbasis nilai Islam.
Di balik kemegahan arsitekturnya, kekuatan utama Masjid Jogokariyan terletak pada semangat kebersamaan warganya. Setiap program lahir dari kebutuhan jamaah, bukan sekadar seremonial keagamaan.
Dari tempat yang dulu dikenal suram, kini Jogokariyan menjadi simbol kebangkitan dakwah, model pemberdayaan masyarakat, sekaligus bukti bahwa masjid bisa menjadi pusat kehidupan sosial modern yang berpijak pada nilai-nilai Islam.[]









