ETNIKOM.NET, YOGYAKARTA — Di antara deru langkah wisatawan di Jalan Malioboro dan gemuruh ombak Parangtritis, Yogyakarta menyimpan wajah lain yang tak kalah memikat. Kota ini tidak hanya bercerita tentang ikon-ikon wisata yang telah lama populer, tetapi juga menyuguhkan sudut-sudut sunyi yang jarang tersentuh pelancong.
Di jantung kota, Keraton Yogyakarta tetap menjadi pusat budaya Jawa. Bangunan berarsitektur klasik ini menyimpan koleksi peninggalan sejarah dan menjadi arena pementasan seni tradisional. Tak jauh dari sana, Taman Sari berdiri dengan lorong-lorong bawah tanah dan bekas kolam pemandian yang sarat cerita masa lalu.
Ke arah timur, Candi Prambanan menjulang anggun. Kompleks candi Hindu abad ke-9 ini tercatat sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Menjelang senja, Candi Ratu Boko menjadi panggung matahari terbenam yang memukau, dengan hamparan cakrawala yang terbuka lebar.
Namun, keindahan Jogja tidak berhenti di sana. Di selatan, Pantai Parangtritis masih setia memanggil wisatawan dengan mitos Ratu Kidul dan hamparan pasir hitam yang luas. Sementara di utara, lereng Gunung Merapi menawarkan petualangan lava tour, membawa pengunjung menyusuri jejak letusan dahsyat melalui jalur bebatuan dan perkampungan yang pernah porak-poranda.
Permata Tersembunyi
Beranjak dari jalur utama wisata, tersimpan destinasi yang menawarkan ketenangan. Di Kulon Progo, Kebun Teh Nglinggo membentang di perbukitan Menoreh, menyuguhkan udara sejuk dan hamparan hijau sejauh mata memandang. Masih di wilayah yang sama, Air Terjun Kedung Pedut memamerkan gradasi warna biru kehijauan di tengah rimbun pepohonan.
Di Gunungkidul, wisatawan dapat menjajal susur Goa Pindul dengan ban pelampung, merasakan sejuknya sungai bawah tanah yang dihiasi stalaktit. Pantai-pantai di sini pun menyimpan pesona, seperti Pantai Wediombo dengan kolam alami yang aman untuk berenang, atau Pantai Nglambor yang menjadi surga snorkeling berkat ombak yang jinak.
Bagi pemburu sunrise, Bukit Panguk Kediwung di Bantul menawarkan panorama negeri di atas awan. Sementara itu, Embung Nglanggeran di Gunungkidul menghadirkan pemandangan senja berlatar Gunung Api Purba.
Menikmati dengan Rasa
Tak lengkap rasanya berkunjung ke Yogyakarta tanpa menyentuh rasa. Gudeg dengan cita rasa manis gurih tetap menjadi primadona. Namun, di balik itu ada sate klathak Pleret, thiwul khas Gunungkidul, geplak Bantul, hingga kopi Menoreh yang diracik hangat di rumah-rumah warga.
Yogyakarta bukan sekadar destinasi. Ia adalah ruang di mana budaya, alam, dan keramahan berpadu menjadi pengalaman. Di setiap perjalanan, selalu ada sisi baru yang menunggu ditemukan—dari keramaian Malioboro hingga sunyinya kebun teh di perbukitan.[]