ETNIKOM.NET, CIREBON – Tradisi bubur suro atau surowanan kembali digelar di Keraton Kasepuhan Cirebon, bertepatan dengan 10 Muharram 1447 H. Tradisi tahunan ini dihadiri oleh berbagai kalangan masyarakat dan keluarga besar Keraton Kasepuhan, termasuk Pangeran Irwan Herlambang yang turut memaknai momen sakral tersebut sebagai bagian dari pelestarian budaya dan spiritualitas Islam.
Acara diawali dengan doa bersama yang dipimpin oleh Kyai Jumhur, Penghulu Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Dalam keterangannya, Kyai Jumhur menjelaskan bahwa tradisi bubur suro merupakan bentuk syukur masyarakat terdahulu yang hidup dalam kesederhanaan.
“Bubur ini dibuat dari bahan-bahan yang ada dan seadanya. Masyarakat zaman dulu hidup dalam keterbatasan, tapi tetap bersyukur. Jadi bubur ini simbol dari semangat kebersamaan dan kesederhanaan,” ungkap Kyai Jumhur.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kegiatan ini tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam, karena di dalamnya terdapat doa, sedekah, dan syukuran.
“Tradisi ini perlu dijaga oleh generasi muda. Isinya doa bersama, sedekah, dan ungkapan syukur. Kita juga mendoakan para leluhur dan memohon keselamatan untuk kita semua,” tambahnya.
Kehadiran keluarga besar Keraton Kasepuhan menambah nilai historis dan spiritual dalam tradisi ini. Pangeran Irwan Herlambang menyampaikan bahwa bubur suro bukan sekadar ritual, melainkan cermin kearifan lokal yang menyatukan nilai budaya dan religiusitas.
“Kami mendukung penuh pelestarian tradisi bubur suro. Ini bukan hanya warisan budaya, tapi juga bentuk penguatan spiritualitas masyarakat Cirebon,” ujar P Irwan Herlambang.
Puluhan porsi bubur dibagikan kepada jamaah dan masyarakat yang hadir. Tradisi ini diharapkan terus dilestarikan sebagai salah satu kearifan lokal yang memperkuat identitas Cirebon sebagai kota yang kaya budaya dan spiritualitas.
Penulis : JUMS