Penulis: Furqon Bunyamin Husein| Wapemred Etnikom.net
ETNIKOM.NET, JAKARTA – Di tengah hingar-bingar dunia digital yang dipenuhi dakwah instan, slogan-slogan religius, dan perdebatan soal fikih, kita sering lupa bahwa agama wabil khusus Islam juga agama lain sesungguhnya memiliki sebuah esensi.
Esesnsi di sini adalah terkait erat dengan nilai – nilai yang tidak melulu berada di tataran teoritis. Agama tak selalu terletak pada seberapa sering kita mengutip dalil yang berkisar pada pusaran teoritis, melainkan seberapa nyata kita menerjemahkannya dalam tindakan ril dan kepedulian terhadap sesama.
Al-Qur’an dengan tegas menjelaskan siapa sejatinya pendusta agama. Bukan mereka yang tidak hafal ayat, bukan pula yang tidak menghadiri majelis-majelis ilmu. Tetapi, Allah berfirman:
“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.” (QS. Al-Ma’un: 1–3).
Ini merupakan statemen yang sangat gamblang dan jelas. Pendusta agama bukan semata soal keyakinan di lisan, melainkan tentang ketidak-pedulian sosial.
Mereka yang asik dengan kehidupan dunia dan kesenangan sendiri. Tentang orang yang mengabaikan nasib yatim dan enggan terlibat dalam urusan kaum dhuafa. Dengan kata lain, agama bukan sekadar ritual, melainkan juga tanggung jawab sosial.
Ironisnya, fakta hari ini justru menunjukkan jurang empati yang kian melebar. Pada skala mikro, banyak dari kita hidup nyaman dalam rutinitas penuh kenyamanan—berlibur, bersantap di restoran mewah, sibuk dalam pencitraan digital—sementara di sekitar kita, tetangga kesulitan membeli beras, anak-anak kekurangan gizi.
Pada level makro, kita lihat di depan mata bagaimana nasib umat yang tersandera oleh genosida di Palestina. Anak-anak, bayi dan warga tak berdosa dihabiskan dengan jalan ditembaki, dibuat lapar, diusir bahkan dibunuh secara keji. Pantaskah kita berlibur diri dengan keluarga dan bersenang senang sementara ada saudara kita yang sedang berduka? Di mana hati dan nurani kita?
Kepekaan sosial telah digantikan oleh algoritma hiburan. Rasa iba digantikan oleh scroll tanpa makna. Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ لَمْ يَهْتَمَّ بِأَمْرِ الْمُسْلِمِينَ فَلَيْسَ مِنْهُمْ
“Barang siapa yang tidak peduli terhadap urusan kaum Muslimin, maka ia bukan bagian dari mereka.” (HR. Al-Hakim).
Hadits ini bukan sekadar ancaman moral, tetapi tamparan realitas. Nabi menyebut mereka yang tidak peduli terhadap urusan umat sebagai bukan bagian dari kaum Muslimin. Maka pertanyaannya: Apakah kita benar-benar bagian dari umat ini, atau hanya bagian dari kerumunan yang sibuk pada diri sendiri?
Kita sering bangga dengan narasi “umat Islam itu seperti satu tubuh”. Namun faktanya, ketika satu bagian tubuh (seperti Palestina, Suriah, atau tetangga sendiri) sedang berdarah, kita justru asik berlibur menikmati keindahan pegunungan, tidur nyenyak di sebuah vila dengan beragam makanan dan lauk yang tersedia. Inikah yang disebut “kal jasadil wahid?”.
Mereka terisak pedih dengan kesulitan yang mereka hadapi tapi kita asik jalan-jalan dengan wajah penuh bahagia menikmati hiburan bersama keluarga. Inikah yang disebut satu tubuh?
Agama menjadi kosong ketika tidak dibarengi dengan empati. Ibadah kehilangan maknanya ketika tidak mendorong kita keluar dari egoisme. Maka, saat kita berdiam diri melihat penderitaan sesama, tak mengulurkan tangan, bahkan tak merasa sedih—mungkin sudah saatnya kita merenung:
Benarkah kita beragama? Masih satu tubuhkah kita dengan mereka yang menderita sebagaimana bunyi hadits dari Rasululullah SAW??
Atau jangan-jangan, tanpa kita sadari – kita adalah bagian dari mereka yang mendustakan agama itu sendiri?
Kawan, ketahuilah bahwa agama bukan sekadar identitas atau ilmu teori, tapi dia juga sebagai nilai yang akan bermakna bila direalisasikan dalam bentuk tindakan nyata. Agama bukan hanya bacaan, tapi juga keberpihakan.
Jika hari ini hati kita masih membatu, tidak memiliki empathi, dan tidak jua bergerak melihat penderitaan umat, maka jangan heran jika kelak Allah tidak menganggap kita bagian dari umat-Nya. Naudzu billaah.[]