ETNIKOM NET, JAKARTA– Di tengah derasnya arus modernisasi ibu kota, Situbabakan hadir sebagai oase budaya yang menjaga warisan asli masyarakat Betawi. Terletak di kawasan Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Perkampungan Budaya Betawi (PBB) Situbabakan menjadi salah satu pusat pelestarian budaya lokal yang masih eksis hingga hari ini.
Gagasan pendirian Situbabakan pertama kali dicetuskan pada tahun 2000 oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu, Sutiyoso. Ia merespons keresahan akan lunturnya identitas budaya Betawi di tengah cepatnya urbanisasi Jakarta.
Melalui kerja sama dengan para tokoh masyarakat dan budayawan Betawi, pembangunan kawasan budaya ini mulai dirintis dan terus dikembangkan hingga kini menjadi kawasan edukatif dan wisata budaya.
Situbabakan bukan sekadar ruang kosong bertema Betawi, melainkan pusat interaksi budaya yang hidup. Di sana, pengunjung bisa menemukan berbagai elemen budaya khas Betawi seperti:
Rumah Adat Betawi: Dibangun dengan arsitektur khas rumah panggung bergaya ‘bapang’, lengkap dengan ornamen dan perabot tradisional.
Galeri Budaya: Menyimpan koleksi benda-benda budaya Betawi seperti alat musik, busana tradisional, perlengkapan pengantin, hingga miniatur ondel-ondel.
Seni Pertunjukan: Secara berkala ditampilkan kesenian tradisional seperti lenong, tari topeng, gambang kromong, dan tanjidor.
Kuliner Khas Betawi: Pengunjung dapat mencicipi makanan tradisional seperti kerak telor, soto Betawi, es selendang mayang, hingga kue cucur.
Pendidikan Budaya: Terdapat ruang-ruang edukasi untuk pelatihan tari, silat Betawi, kerajinan tangan, dan bahasa Betawi.
Situbabakan tidak hanya menjadi tempat wisata, tetapi juga berfungsi sebagai pusat studi budaya Betawi. Sekolah-sekolah, mahasiswa, komunitas budaya, bahkan wisatawan mancanegara kerap datang untuk mengenal lebih dalam tentang etnis Betawi. Kawasan ini juga kerap menjadi lokasi kegiatan pelestarian budaya seperti festival, seminar, workshop, hingga upacara adat.
Meski eksistensinya telah diakui, Situbabakan menghadapi tantangan besar dalam hal pendanaan, regenerasi pelaku budaya, dan integrasi dengan dunia digital. Namun demikian, keberadaan tempat ini tetap penting sebagai tonggak identitas budaya Betawi di tengah tantangan globalisasi.
Pemerintah DKI Jakarta diharapkan terus memberikan perhatian serius dalam perawatan dan pengembangan kawasan ini agar mampu beradaptasi tanpa kehilangan jati diri.
Situbabakan adalah bukti nyata bahwa budaya Betawi masih hidup dan relevan. Ia bukan sekadar peninggalan masa lalu, tetapi bagian dari masa depan Jakarta yang berakar kuat pada identitas lokal. Melalui tempat ini, masyarakat diajak untuk tidak melupakan asal-usul, menjaga keberagaman, dan merayakan warisan budaya dengan bangga.[]
Penulis : Gofur