Penulis: Siti Aminah | Aktivis Muslimah Kota Malang
ETNIKOM.NET, JAKARTA – Jagat media sosial tengah dihebohkan dengan kisah haru dua bersaudara asal Sidoarjo, Jawa Timur, yang menyerahkan ibu kandung mereka ke panti jompo Griya Jompo Husnul Khatimah, Malang.
Peristiwa ini viral setelah diunggah oleh Ketua Yayasan Arief Camra melalui akun TikTok miliknya. Dalam video yang diunggah, terlihat sang ibu, Nasikah (74), duduk ditemani oleh Arief.
Ia tampak tenang di tengah proses penyerahan dirinya ke panti jompo tersebut. Namun, yang membuat publik semakin terenyuh adalah fakta bahwa kedua anak Nasikah menandatangani surat persetujuan untuk menitipkan ibunya sekaligus pernyataan tidak ingin diberi kabar jika ibunya meninggal dunia sebagaimana ditulis viva (28/06/2025).
Mereka berdua tidak ada yang mau menjaga ibunya sehingga mengambil keputusan untuk menitipkan di panti jompo, tidak ada alasan yang jelas dalam video yang diunggah kenapa dua anak perempuan ini menitipkan ibunya di panti jompo bahkan ketika mereka menandatangani surat perjanjian bila meninggal mereka tidak akan diberitahu mereka tetap saja tanda tangan surat itu perjanjian itu.
Kehidupan dengan kondisi sulit saat ini memang mempengaruhi pola didik orang tua terhadap anak. Ibu harus bekerja keras di luar rumah sehingga sang ibu tidak bisa memberikan cinta dan kasih sayang sehingga anak tumbuh tanpa pendidikan yang baik.
Naluri kasih sayang atau naluri mencintai hilang terkikis oleh kehidupan yang keras sehingga anak tumbuh dengan hati yang keras – tidak punya kasih sayang terhadap siapapun termasuk ibunya sendiri sehingga mereka dengan mudah dan tanpa rasa bersalah membuang ibunya begitu saja di panti jompo.
Dalam Islam ibu adalah madrasatul ula, orang pertama yang menjadikan anaknya taat kepada Allah SWT. Seorang ibu memiliki tugas mulia menyiapkan generasi berakhlak penuh kasih sayang dan cinta kepada keluarga.
Seorang ibu sejatinya mendidik anak-anak dengan baik, fokus dalam mendidik tanpa harus bekerja untuk mencari nafkah. Tapi dalam sistem kapitalis saat ini seorang ibu dituntut untuk menjadi tulang punggung keluarga sehingga anak-anak mereka tidak mendapatkan kasih sayang dan pendidikan yang baik. Anak-anak tumbuh tanpa rasa kasih sayang dan empati karena sejak kecil tidak mendapatkannya dari orang tua.
Negara Dalam Konsep kapitalis hanya berfungsi sebagai regulator saja – tidak secara maksimal mengurusi kebutuhan rakyat sehingga mereka harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup dan mengabaikan apa yang menjadi kewajibannya. Pada akhirnya lahir generasi keras hati yang tidak takut dengan dosa – sehingga orang tua durhaka pada anak dan anak durhaka kepada orang tua.
Dalam Islam seorang ibu tidak punya kewajiban mencari nafkah. Bila seorang ibu ditinggal mati suami maka keluarga laki-laki akan menanggung nafkahnya dan apabila tidak ada keluarga yang mampu memberikan nafkah maka negara yang memberikannya. Maka tidak akan ada lagi orang tua durhaka atau anak durhaka lagi.[]