Refleksi Muharram: Mewujudkan Hakikat Hijrah dan Kebangkitan Umat

- Redaksi

Jumat, 4 Juli 2025 - 11:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Penulis: Yuri Ayu Lestari, S.Pd | Pemerhati Remaja

 

ETNIKOM.NET, JAKARTA — Tahun baru Islam kembali hadir, namun sayangnya, masih sedikit yang menjadikannya sebagai momentum untuk merenung dan bermuhasabah secara mendalam. Padahal, bulan Muharram, terutama peristiwa hijrahnya Rasulullah ﷺ dari Makkah ke Madinah, sarat dengan nilai perubahan dan kebangkitan.

Hijrah bukan sekadar perpindahan fisik, melainkan awal dari terbentuknya peradaban Islam yang gemilang. Di bawah naungan Islam, umat bersatu, hidup dalam aturan Allah, dan membawa rahmat ke seluruh penjuru dunia.

Kini, gambaran itu seperti tinggal cerita masa lalu. Umat Islam hari ini tercerai-berai, tertindas, dan terus diliputi keterpurukan. Genosida di Palestina belum juga berhenti, sementara para penguasa negeri-negeri Muslim justru lebih sibuk menjaga hubungan diplomatik dan ekonomi dengan penjajah, alih-alih membela saudara seiman.

Konflik, kemiskinan, korupsi, dan kezaliman menjadi potret keseharian yang menimpa umat. Di tengah kondisi ini, datangnya tahun baru Hijriah seharusnya menggugah kesadaran bahwa keadaan ini bukanlah takdir yang tak bisa diubah.

Allah SWT telah memperingatkan: “Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit…” (QS. Thaha: 124).

Inilah akar persoalan umat hari ini—menjauh dari aturan Allah. Islam tak lagi menjadi sumber hukum dalam kehidupan sosial dan kenegaraan. Nilai-nilainya dibatasi hanya pada ibadah personal, sementara sistem ekonomi, politik, pendidikan, dan hukum justru dikendalikan oleh aturan buatan manusia yang lemah dan sarat kepentingan.

Momen pergantian tahun Hijriah seharusnya menjadi waktu untuk menggugah kembali kesadaran umat akan identitasnya. Umat Islam adalah khairu ummah, umat terbaik, yang diutus untuk memimpin peradaban, bukan menjadi korbannya. Allah SWT berfirman:

Baca Juga :  Job Fair Membludak: Antusiasme atau Alarm Krisis Ketenagakerjaan?

“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, serta beriman kepada Allah…” (QS. Ali Imran: 110).

Namun, gelar “umat terbaik” bukanlah pemberian otomatis. Ia harus diraih melalui ketaatan kolektif terhadap syariat Allah dalam seluruh aspek kehidupan.

Maka, jalan menuju kemuliaan itu hanya dapat ditempuh dengan menerapkan Islam secara kaffah. Tidak cukup hanya dengan peningkatan spiritualitas individual. Umat membutuhkan perubahan sistemik—yakni mengembalikan aturan Allah sebagai satu-satunya sumber hukum.

Perubahan ini hanya mungkin terwujud melalui tegaknya kepemimpinan Islam global yang menjadi junnah (perisai) bagi umat. Kepemimpinan ini bukan sekadar simbol politik, tetapi institusi yang akan menyatukan umat, menerapkan syariat secara total, serta membela kehormatan kaum Muslim di seluruh dunia.

Sepanjang sejarah, kepemimpinan Islam ala Rasulullah ﷺ telah terbukti menghadirkan keadilan, kesejahteraan, dan kemajuan di berbagai bidang. Bahkan, peradaban Barat modern pun banyak mengambil ilmu dari kejayaan umat Islam di masa lalu.

Tanpa kepemimpinan Islam global, umat akan terus terkotak-kotak dalam puluhan negara bangsa yang lebih tunduk pada kepentingan asing ketimbang pada hukum Allah.

Namun, tegaknya kepemimpinan ini tidak akan datang dengan sendirinya. Ia menuntut perjuangan, pengorbanan, dan penyadaran yang berkelanjutan. Umat Islam harus disadarkan bahwa Islam bukan sekadar agama ritual, tetapi sistem hidup yang paripurna.

Baca Juga :  Karena Hidup Tanpa Syariat, Nafsu pun Menjerat 

Mereka harus memahami hakikat dirinya sebagai hamba Allah sekaligus bagian dari satu tubuh umat yang besar. Mereka pun harus didorong untuk terlibat aktif dalam perjuangan menegakkan syariat Islam.

Di sinilah pentingnya peran jamaah dakwah yang tulus dan istiqamah—komunitas yang menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai panduan utama, serta tidak tergoda oleh kekuasaan, harta, atau popularitas. Jamaah ini harus terus membina umat, menyampaikan kebenaran, dan menjadi garda terdepan dalam proses perubahan menuju tegaknya hukum Allah di muka bumi.

Dalam konteks ini, Muharram dan tahun baru Hijriah seharusnya tidak hanya diperingati secara seremonial melalui perayaan dan puasa sunah. Ia semestinya menjadi titik balik menuju revolusi pemikiran dan gerakan perubahan.

Muharram harus membangkitkan kesadaran untuk kembali kepada Islam secara total—bukan setengah hati. Bukan Islam yang dipreteli sesuai selera manusia, tetapi Islam yang utuh sebagaimana diturunkan Allah dan dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ.

Tahun baru Hijriah adalah momen yang sarat harapan. Namun, harapan itu tak cukup tanpa kesadaran, perjuangan, dan perubahan nyata. Umat tak boleh terus menggantungkan harapannya pada sistem sekuler yang terbukti gagal menyelesaikan masalah.

Kini saatnya kembali kepada sistem Ilahi yang telah terbukti memimpin dunia dengan adil dan mulia. Mari jadikan Muharram ini sebagai awal kebangkitan hakiki—bukan sekadar peringatan tahunan yang berlalu tanpa makna.

Hakikat hijrah sejati adalah hijrah menuju penerapan Islam secara kaffah di bawah naungan kepemimpinan Islam global sebagaimana yang diimplementasikan Nabi Muhammad ﷺ.[]

Berita Terkait

Sekolah Rakyat Antara Kebijakan Populis Tanpa Kajian Akademis dan Redupnya Doa Sang Pengobral Dosa
Gaza Dibantai, Di Mana Para Pemimpin Muslim?
Korupsi Tak Pernah Reda, Tanda Sistem Kita Sakit
Penghinaan Nabi Berulang, Demokrasi Biang Keladi
Eksistensi, Ruang Publik, dan Syari’at: Sebuah Renungan
Kampus Hebat, Kampus Pencipta Mahasiswa ‘Nakal’
Gencatan Senjata Iran–Israel: Kemenangan Adidaya, Kekalahan Dunia Islam
Refleksi Diri: Muslimah Sejati di Tengah Arus Zaman
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 15 Juli 2025 - 06:59 WIB

Sekolah Rakyat Antara Kebijakan Populis Tanpa Kajian Akademis dan Redupnya Doa Sang Pengobral Dosa

Senin, 14 Juli 2025 - 19:15 WIB

Gaza Dibantai, Di Mana Para Pemimpin Muslim?

Jumat, 11 Juli 2025 - 07:25 WIB

Korupsi Tak Pernah Reda, Tanda Sistem Kita Sakit

Kamis, 10 Juli 2025 - 22:03 WIB

Penghinaan Nabi Berulang, Demokrasi Biang Keladi

Kamis, 10 Juli 2025 - 10:42 WIB

Eksistensi, Ruang Publik, dan Syari’at: Sebuah Renungan

Berita Terbaru

Wisata

Taman Salam, Oase Hijau Tersembunyi di Jatipadang

Jumat, 29 Agu 2025 - 14:00 WIB