Penulis: Yuri Ayu Lestari, S.Pd| Pemerhati Remaja
ETNIKOM NET, JAKARTA — Menjadi muslimah di era kapitalisme sekuler bukanlah perkara mudah. Di tengah gempuran arus liberalisme, modernisasi, dan budaya permisif, tak sedikit perempuan muslimah yang terhanyut dalam pergaulan bebas, kehilangan arah hidup, bahkan terjebak dalam gaya hidup hedonis yang dibungkus dengan label “kebebasan berekspresi.”
Realitas ini amat memprihatinkan. Ia menyentuh akar jati diri perempuan muslim—mulai dari identitas, harga diri, hingga peran mulianya sebagai penjaga peradaban.
Sistem kapitalisme menjadikan materi dan kebebasan sebagai tolok ukur kebahagiaan. Perempuan tak lagi dipandang sebagai sosok mulia, tetapi sebagai komoditas ekonomi dan media popularitas.
Media sosial pun turut menggiring muslimah mengejar standar kecantikan semu, membenarkan pacaran, serta menormalisasi relasi tanpa batas. Akibatnya, banyak muslimah kehilangan jati diri: sebagai hamba Allah, penjaga kehormatan, dan pencetak generasi rabbani.
Kebebasan berekspresi dalam bentuk yang menjerumuskan kini menjelma dalam berbagai wajah. Sebagian muslimah tanpa sungkan menampilkan aurat di media sosial atas nama “body positivity”, mengikuti tren fashion yang bertentangan dengan syariat demi validasi publik, bahkan bangga memamerkan gaya hidup bebas tanpa mahram. Tak jarang, ada pula yang mulai meragukan ajaran Islam atas nama kebebasan berpikir.
Di tengah fenomena ini, sudah saatnya kita bertanya: benarkah ini jalan hidup yang benar? Apakah seperti ini peran yang Allah takdirkan bagi seorang muslimah?
Jalan Menuju Muslimah Sejati
Menjadi muslimah sejati bukanlah perkara penampilan semata, melainkan bagaimana ia menjadikan keimanan sebagai landasan hidup.
Pertama, muslimah sejati menanamkan akidah Islam sebagai pijakan berpikir dan bertindak. Ia sadar hidup bukan semata untuk dunia, tetapi untuk meraih rida Allah. Maka, ia meninggalkan gaya hidup liberal, pergaulan bebas, dan pacaran.
Kedua, ia menjaga kehormatan diri dengan berpakaian syar’i, menundukkan pandangan, serta membatasi interaksi dengan lawan jenis sesuai tuntunan agama. Ia paham, kemuliaan perempuan tak terletak pada aurat yang ditampakkan, melainkan pada akhlak dan ketakwaan.
Ketiga, ia terus menuntut ilmu, khususnya ilmu keislaman. Hanya dengan pemahaman yang benar, ia mampu memilah mana yang hak dan mana yang batil.
Peran Muslimah Muda: Pilar Perubahan
Usia muda adalah fase emas pembentukan karakter. Daripada larut dalam arus dunia maya yang kosong makna, sudah waktunya muslimah muda menjadi agen perubahan. Bangun komunitas positif, aktif dalam dakwah, ajak teman mengenal Islam, dan jadilah teladan inspiratif. Media sosial harus menjadi sarana dakwah, bukan panggung pamer aurat.
Muslimah muda hari ini adalah calon ibu generasi mendatang. Jika sejak muda terbiasa hidup dalam nilai Islam, maka ia akan melahirkan generasi bertakwa. Sebaliknya, jika masa mudanya dihabiskan dalam kelalaian, maka masa depan umat pun ikut terancam.
Orang Tua: Pembimbing dan Pelindung
Tugas orang tua dalam mendidik anak perempuan di era liberal menuntut kewaspadaan tinggi. Tak cukup menjadi penyedia kebutuhan materi, orang tua harus menjadi penjaga akidah dan akhlak.
Beberapa langkah konkret yang bisa dilakukan antara lain:
1. Membiasakan salat berjamaah dan membaca Al-Qur’an bersama.
2. Menjadwalkan waktu khusus untuk membahas kisah-kisah shahabiyah sebagai teladan.
3. Mengajarkan nilai malu dan menjaga aurat sejak dini.
4. Mengatur akses digital anak hanya pada konten Islami dan edukatif.
5. Mengikutsertakan anak dalam kajian remaja dan komunitas positif.
6. Menyediakan pustaka Islami di rumah untuk menumbuhkan minat baca dan ilmu.
Lingkungan pergaulan dan tontonan anak juga perlu disaring. Pendidikan moral bukan hanya tugas sekolah. Rumah harus menjadi benteng pertama pembentukan kepribadian Islam.
Sistem Islam: Perlindungan Hakiki bagi Muslimah
Upaya individu dan keluarga akan lebih kuat jika didukung sistem yang benar. Dalam Islam, negara memiliki peran sentral menjaga kehormatan perempuan. Sistem pendidikan diarahkan pada pembentukan kepribadian Islami, media dibersihkan dari konten yang merusak, dan budaya amar ma’ruf nahi munkar ditegakkan secara menyeluruh.
Negara dalam konsep Islam tidak akan membiarkan pacaran, zina, dan eksploitasi perempuan tumbuh subur. Ada sanksi tegas terhadap pelaku kemaksiatan, dan perlindungan penuh terhadap perempuan. Khilafah Islam terbukti sepanjang sejarah menjaga kehormatan muslimah dan mencetak generasi gemilang.
Menjadi muslimah sejati di tengah arus kapitalisme memang berat. Namun bukan berarti mustahil. Dengan niat lurus, ilmu yang benar, lingkungan shalih, serta sistem yang mendukung, setiap muslimah bisa kembali pada jati dirinya sebagai hamba Allah yang mulia.
Saat muslimah bangkit, maka peradaban pun ikut bangkit. Dan kebangkitan sejati hanya akan hadir jika kita kembali kepada Islam secara kaffah. Wallahu a’lam bish-shawab.[]