Penghinaan Nabi Berulang, Demokrasi Biang Keladi

- Redaksi

Kamis, 10 Juli 2025 - 22:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Penulis: Puput Hariyani, S.Si | Woman Preuneur

 

ETNIKOM NET, JAKARTA — Islam adalah peradaban agung yang telah berlangsung selama berabad-abad, menjadi teladan bagi banyak peradaban lain dalam berbagai aspek kehidupan. Peradaban ini dibangun di atas fondasi akidah Islam yang lurus dan suci, serta disempurnakan dengan penerapan syariat Islam yang bersumber langsung dari Allah Swt. Dalam sejarahnya, peradaban Islam termanifestasi secara nyata dalam bentuk Daulah Khilafah Islamiyah.

Islam memiliki mekanisme sempurna untuk menjaga kemuliaan ajaran dan nabinya, termasuk sistem sanksi yang tegas bagi siapa pun yang menghina Rasulullah Saw., baik secara langsung, melalui substansi ucapan, maupun melalui pernyataan multitafsir.

Dalam bingkai penerapan syariat, Islam terbukti menghadirkan keadilan, keamanan, dan kesejahteraan yang diakui bahkan oleh banyak sejarawan Barat.

Baca Juga :  Akankah AI Menggantikan Posisi Manusia?

Hal ini sangat kontras dengan peradaban modern hari ini yang dibangun di atas asas sekularisme — yakni pemisahan agama dari kehidupan. Sistem ini menjadikan logika manusia dan kebebasan sebagai nilai tertinggi, dan dikenal luas dengan istilah demokrasi. Atas nama kebebasan berekspresi, mereka kerap menghina ajaran Islam dan Rasulullah Saw., dengan dalih hak berpendapat.

Salah satu bentuk penghinaan itu muncul kembali baru-baru ini. Majalah satir LeMan menerbitkan kartun yang menghina Nabi Muhammad Saw., memicu gelombang kemarahan di kalangan umat Islam.

Seperti dilansir CNN Indonesia, bentrokan pecah di Istanbul, Turki, pada Senin (30/6), saat massa memprotes publikasi tersebut. Menurut AFP, sekitar 250 hingga 300 orang terlibat dalam bentrokan di kawasan bar yang sering dikunjungi staf LeMan. Polisi yang mencoba membubarkan massa justru memicu ketegangan karena amarah publik sudah tak terbendung.

Baca Juga :  Fantasi Sedarah dan Runtuhnya Fungsi Pelindung Keluarga

Meski pihak media membantah dan sejumlah pelaku telah ditangkap, rakyat Turki tetap tidak dapat menerima penghinaan tersebut. Mereka menuntut hukuman tegas bagi pelaku penistaan.

Fakta bahwa kasus seperti ini terus berulang menunjukkan lemahnya sistem sanksi dalam sistem demokrasi. Selama akar persoalan tidak dituntaskan — yakni asas kebebasan yang membuka ruang penghinaan terhadap agama — maka kasus serupa akan terus terjadi.

Tidak ada solusi sejati selain mencampakkan aturan buatan manusia dan kembali kepada hukum Allah Swt. yang menjamin kehormatan, keadilan, dan keberkahan bagi seluruh umat manusia. Wallahu a’lam bish-shawab.[]

Berita Terkait

Sekolah Rakyat Antara Kebijakan Populis Tanpa Kajian Akademis dan Redupnya Doa Sang Pengobral Dosa
Gaza Dibantai, Di Mana Para Pemimpin Muslim?
Korupsi Tak Pernah Reda, Tanda Sistem Kita Sakit
Eksistensi, Ruang Publik, dan Syari’at: Sebuah Renungan
Kampus Hebat, Kampus Pencipta Mahasiswa ‘Nakal’
Gencatan Senjata Iran–Israel: Kemenangan Adidaya, Kekalahan Dunia Islam
Refleksi Diri: Muslimah Sejati di Tengah Arus Zaman
Kesejahteraan Guru, Investasi Masa Depan Bangsa
Berita ini 18 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 15 Juli 2025 - 06:59 WIB

Sekolah Rakyat Antara Kebijakan Populis Tanpa Kajian Akademis dan Redupnya Doa Sang Pengobral Dosa

Senin, 14 Juli 2025 - 19:15 WIB

Gaza Dibantai, Di Mana Para Pemimpin Muslim?

Jumat, 11 Juli 2025 - 07:25 WIB

Korupsi Tak Pernah Reda, Tanda Sistem Kita Sakit

Kamis, 10 Juli 2025 - 22:03 WIB

Penghinaan Nabi Berulang, Demokrasi Biang Keladi

Kamis, 10 Juli 2025 - 10:42 WIB

Eksistensi, Ruang Publik, dan Syari’at: Sebuah Renungan

Berita Terbaru

Wisata

Taman Salam, Oase Hijau Tersembunyi di Jatipadang

Jumat, 29 Agu 2025 - 14:00 WIB