Menyelami Kekayaan Budaya Aceh: Warisan Islam dan Kearifan Lokal yang Mengakar

- Redaksi

Rabu, 30 Juli 2025 - 12:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

ETNIKOM.NET, JAKARTA-– Tanah Rencong, begitu julukan yang melekat pada Provinsi Aceh, bukan hanya dikenal karena sejarah perjuangannya yang panjang, tetapi juga karena kekayaan budayanya yang unik dan kental dengan nilai-nilai Islam.

Sebagai daerah yang mendapat status istimewa dalam penerapan syariat Islam, budaya Aceh mencerminkan perpaduan harmonis antara tradisi lokal, pengaruh Islam, dan kearifan leluhur yang diwariskan lintas generasi.

Warisan Islam yang Menyatu dalam Tradisi

Budaya Aceh sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai Islam. Hampir semua aspek kehidupan masyarakat, mulai dari tata cara berpakaian, adat pernikahan, hingga hukum adat, tak lepas dari syariat. Contohnya, pakaian adat Aceh seperti baju meukasah dan kupiah meukeutop mencerminkan kesopanan dan kehormatan, sesuai nilai-nilai keislaman.

Tradisi Peusijuk atau tepung tawar menjadi salah satu bentuk ritual budaya Islam lokal yang sarat makna. Ia dilakukan dalam berbagai peristiwa penting seperti pernikahan, naik haji, pembangunan rumah, hingga menyambut tamu agung. Melalui peusijuk, masyarakat Aceh memohon keberkahan dan keselamatan kepada Allah SWT.

Baca Juga :  PBI Cirebon Rayakan Hari Kebaya Nasional 2025, Dorong Budaya Berkebaya di Sekolah hingga Kantor

Bahasa dan Sastra Aceh

Bahasa Aceh merupakan bagian dari identitas kuat masyarakatnya. Selain digunakan dalam percakapan sehari-hari, bahasa ini juga menjadi medium penting dalam kesenian, seperti hikayat, syair, dan cerita rakyat. Sastra Aceh sering kali mengandung pesan moral dan keagamaan yang mendalam.

Salah satu contoh karya sastra besar dari Aceh adalah Hikayat Prang Sabi, yang membakar semangat perjuangan melawan kolonialisme Belanda. Hikayat ini tidak hanya sebagai karya sastra, tapi juga dokumen perjuangan dan spirit jihad masyarakat Aceh.

Seni Musik dan Tari

Aceh memiliki berbagai bentuk seni musik dan tari yang khas, seperti Rapai, Seudati, dan Tari Saman yang sudah mendunia. Tari Saman dari Gayo bahkan telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya tak benda dunia. Tarian ini menggambarkan kekompakan, semangat kebersamaan, serta nilai spiritual yang kuat.

Selain itu, alat musik tradisional seperti Serune Kalee dan Geundrang menjadi pelengkap dalam berbagai upacara adat dan pertunjukan seni rakyat.

Baca Juga :  Festival Lembah Baliem 2025, Pesona Budaya Papua yang Menembus Dunia

Hukum Adat dan Kearifan Lokal

Aceh juga memiliki sistem hukum adat yang kuat dan dijalankan melalui tuha peut (dewan adat gampong), sebagai bentuk lokalitas demokrasi yang menyatu dengan nilai Islam. Penyelesaian sengketa, pengambilan keputusan, hingga penetapan adat, dilakukan berdasarkan musyawarah dan pertimbangan hukum adat serta syariat.

Kuliner sebagai Cerminan Budaya

Kuliner Aceh tak kalah menarik sebagai bagian dari warisan budayanya. Makanan seperti mie Aceh, kuah pliek u, dan ayam tangkap menjadi simbol kekayaan rempah dan kreativitas masyarakat Aceh. Di balik tiap sajian, terdapat cerita dan filosofi yang merekatkan budaya dengan kehidupan sehari-hari.

Budaya Aceh adalah warisan yang kaya, kompleks, dan mengakar kuat dalam nilai-nilai agama dan adat. Ia bukan sekadar peninggalan masa lalu, tetapi terus hidup dan berkembang seiring zaman. Menjaga dan melestarikannya bukan hanya tugas orang Aceh, tetapi tanggung jawab bangsa untuk merawat kekayaan budaya Indonesia yang luar biasa.[]

Penulis : Gofur

Berita Terkait

MA Gelar Wayang Kulit Rayakan HUT ke-80, Ki Yanto Kembali Memukau sebagai Dalang
Tingkeban: Tradisi Jawa dalam Menyambut Tujuh Bulan Kehamilan
Keraton Kasepuhan Cirebon Lestarikan Tradisi Rebo Wekasan Lewat Curak Sedekah
Budaya Religius Pati: Harmoni Tradisi dan Spiritualitas
Budaya dan Kehidupan Masyarakat Palestina: Antara Tradisi dan Keteguhan di Tengah Ujian
Keraton Kasepuhan Cirebon Lestarikan Tradisi Ngapem Sambut Bulan Sapar
Bupati Jayawijaya Tutup FBLB ke-33: “Dari Tanah Jayawijaya untuk Dunia”
Pasar Malam & Tradisi Adat Warnai Maulid Nabi 2025 di Keraton Kasepuhan Cirebon
Berita ini 3 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Senin, 25 Agustus 2025 - 11:45 WIB

MA Gelar Wayang Kulit Rayakan HUT ke-80, Ki Yanto Kembali Memukau sebagai Dalang

Kamis, 21 Agustus 2025 - 09:46 WIB

Tingkeban: Tradisi Jawa dalam Menyambut Tujuh Bulan Kehamilan

Rabu, 20 Agustus 2025 - 15:27 WIB

Keraton Kasepuhan Cirebon Lestarikan Tradisi Rebo Wekasan Lewat Curak Sedekah

Kamis, 14 Agustus 2025 - 07:04 WIB

Budaya Religius Pati: Harmoni Tradisi dan Spiritualitas

Selasa, 12 Agustus 2025 - 08:41 WIB

Budaya dan Kehidupan Masyarakat Palestina: Antara Tradisi dan Keteguhan di Tengah Ujian

Berita Terbaru

Wisata

Taman Salam, Oase Hijau Tersembunyi di Jatipadang

Jumat, 29 Agu 2025 - 14:00 WIB