Penulis: Dwi Istanti, S.Pd. | Pegiat Muslimah Hijrah
ETNIKOM.NET, JAKARTA — Hubungan antara mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu selalu digambarkan sebagai aliansi yang sangat dekat, bahkan personal. Namun, di balik citra kemesraan yang kerap ditonjolkan, muncul kabar retaknya hubungan tersebut yang mengindikasikan adanya pergeseran prioritas dan persepsi.
Keretakan ini, yang disebut-sebut mencapai titik Trump memutuskan kontak langsung dengan Netanyahu, menyoroti dinamika kompleks antara dua pemimpin yang dikenal dengan gaya kepemimpinan yang tegas dan berpusat pada diri sendiri.
Inti dari keretakan ini, menurut laporan, adalah perasaan Donald Trump yang merasa dimanipulasi oleh Netanyahu. Tuduhan manipulasi ini datang dari lingkaran dalam Trump sendiri, di mana seorang rekan dekatnya menyampaikan kekhawatiran tersebut kepada Menteri Urusan Strategis Israel Ron Dermer.
Persepsi ini menjadi pemicu utama di balik perubahan sikap Trump terhadap sekutunya yang selama ini sangat didukungnya. Dalam kancah politik internasional, perasaan seorang pemimpin besar yang merasa diperdaya dapat berakibat fatal pada hubungan bilateral, terlebih jika melibatkan isu-isu geopolitik yang sensitif.
Selain faktor personal tersebut, alasan-alasan yang lebih substantif juga turut berkontribusi pada pecah kongsi ini. Salah satu poin krusial adalah kegagalan pemerintah Israel di bawah Netanyahu untuk menyajikan rencana dan jadwal konkret terkait isu-isu regional yang vital.
Trump, dalam pandangan ini, merasa Israel tidak responsif atau tidak cukup proaktif dalam menghadapi ancaman seperti Iran dan kelompok Houthi di Yaman. Ini mengindikasikan adanya harapan dari pihak AS untuk melihat langkah-langkah yang lebih jelas dan terstruktur dari Israel dalam mengatasi tantangan keamanan regional yang juga berdampak pada kepentingan AS.
Lebih lanjut, kekecewaan Trump juga meluas pada penanganan isu Gaza. Pemerintah Netanyahu disebut gagal menawarkan proposal konkret mengenai Gaza, sebuah wilayah yang kerap menjadi titik panas konflik dan ketidakstabilan di Timur Tengah.
Ketidakhadiran solusi atau rencana jangka panjang yang jelas dari Israel untuk Gaza mungkin dipandang oleh Trump sebagai kurangnya keseriusan atau ketidakmampuan untuk mengatasi salah satu sumber utama ketegangan di kawasan tersebut. Ini bisa jadi menjadi indikasi bahwa Trump mengharapkan mitra strategisnya untuk mengambil inisiatif yang lebih signifikan dalam menjaga stabilitas.
Hal yang menarik, dalam konteks keretakan ini, Trump terlihat bertindak dalam empat file regional yang bertentangan dengan kepentingan Israel. Ini adalah indikasi kuat bahwa Trump mulai memprioritaskan kepentingan Amerika Serikat di kawasan tersebut di atas kepentingan Israel, sebuah pergeseran yang signifikan dari narasi “sekutu tak tergoyahkan” yang sering digaungkan sebelumnya.
Jika benar bahwa Trump mengambil langkah-langkah yang secara langsung merugikan agenda Israel, itu menunjukkan bahwa hubungan tersebut telah bergerak dari kemitraan yang seimbang menjadi hubungan di mana AS siap untuk bertindak secara unilateral demi kepentingannya sendiri.
.
Kondisi ini juga menyoroti fakta bahwa Netanyahu tampaknya tidak lagi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Trump dalam isu-isu regional. Selama ini, Netanyahu dikenal sebagai pemimpin yang ahli dalam bermanuver di panggung politik internasional dan memiliki hubungan yang kuat dengan Gedung Putih.
Namun, ketika pengaruhnya memudar, terutama di mata seorang pemimpin seperti Trump yang dikenal sangat pragmatis, itu menandakan adanya perubahan mendalam dalam dinamika kekuatan di Timur Tengah.
Sebagai kesimpulan, keretakan antara Donald Trump dan Benjamin Netanyahu bukan sekadar perselisihan personal, melainkan refleksi dari kompleksitas hubungan antara dua negara yang memiliki kepentingan strategis masing-masing. Ini adalah sebuah realitas baru yang harus dipandang oleh umat Islam sebagai peluang.
Meskipun mereka sama-sama memusuhi umat Islam, sesungguhnya ikatan mereka sangat rapuh dan rawan terjadi perpecahan. Allah SWT berfirman :
“Mereka tidak akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti”. (TQS. AL HASYR : 14) .
Penting bagi umat Islam untuk memiliki pemahaman Ideologis bahwa umat terbaik ini, sejatinya memiliki kekuatan yang besar jika dibangun atas Aqidah Islam sebagaimana telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW serta diteruskan oleh para Shahabat dan umat Islam terdahulu.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sebaik-baik manusia adalah di masaku (para sahabat), kemudian orang-orang sesudah mereka (tabi’in), kemudian orang-orang sesudah mereka (tabi’ut tabi’in).” (HR. Bukhari dan Muslim).
Penyadaran ini perlu kerja jamaah dakwah Islam ideologis yang menjadikan Aqidah islam sebagai pengikatnya. Jamaah dakwah ini akan menyatukan serta membimbing umat untuk menapaki jalan perjuangan yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
Allah SWT mengingatkan pada kita tentang bahaya perpecahan dan pentingnya persatuan untuk menjaga kekuatan umat Islam.
“Dan janganlah kalian berselisih, niscaya kalian akan menjadi lemah dan hilang kekuatan kalian.” (TQS. Ali Imron : 103).
Umat Islam harus bersatu. Persatuan Umat akan menghantarkan tegaknya kepemimpinan Islam, yang dengan itu akan tegak kepemimpinan Islam global. Kepemimpinan akan memimpin dunia, menjadi negara adidaya yang akan meninggikan kalimat Allah dan menjadi pelindung umat islam dunia dan akan mampu mengalahkan AS dan kroninya termasuk membebaskan Palestina dengan jihad.
Firman Allah SWT, yang artinya: “Sesungguhnya, (agama tauhid) ini adalah agama kamu, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.” (QS. Al Anbiya : 92 ).[]