Penulis: Yuri Ayu Lestari, S. Pd | Aktivis Muslimah dan Pemerhati Remaja
ETNIKOM.NET, JAKARTA – Tidak semua menanti perempuan tumbuh dengan kedekatan bersama ibu mertua. Banyak dari kita baru mengenalnya justru setelah ijab qabul diucapkan. Sosok asing yang tiba-tiba menyandang gelar “ibu”—bukan karena darah, tapi karena ikatan suci bernama pernikahan dengan anak laki-lakinya.
Hubungan ini pun butuh waktu; untuk membuka hati, belajar saling memahami, dan perlahan tumbuh mencintai. Tidak semua menantu langsung mahir dalam menjalin kedekatan.
Banyak yang mengira, ibu mertua hadir untuk menilai bagaimana kita mengurus rumah, memasak untuk anaknya, atau cara kita memperlakukan suami. Seolah ada ujian diam-diam yang harus dilalui untuk “lulus” menjadi menantu.
Persepsi seperti ini membuat banyak perempuan menjadi sungkan, kaku, terlalu berhati-hati, bahkan merasa tak cukup baik. Padahal seringkali, itu hanya prasangka yang muncul karena kita sedang belajar menyesuaikan diri.
Tak sedikit perempuan yang merasa segan, canggung, atau bahkan takut di hadapan ibu mertua. Takut salah ucap, takut tak diterima, takut tampak asing di tengah rumah yang baru.
Meski tak tinggal satu atap, saat bertemu rasanya ingin selalu tampak sempurna. Padahal, sering kali, ibu mertua pun sedang berjuang untuk mencintai menantunya. Ia juga tengah belajar membuka hati, menerima kehadiran orang baru dalam hidup anak yang ia besarkan dengan cinta dan air mata.
Ibu mertua juga seorang ibu. Ia pernah terjaga sepanjang malam demi anak laki-lakinya—yang kini menjadi suami kita. Ia pernah sakit tapi tetap berdiri, agar tak merepotkan siapa pun. Ia piawai menyembunyikan luka di balik senyuman dan kalimat, “Tidak apa-apa, Nak…” meski tubuhnya mungkin tengah menahan nyeri yang luar biasa.
Semua ia lakukan agar anak-anaknya tak merasa terbebani. Kelak, ketika tubuhnya renta, ia tetap akan berkata hal yang sama: “Tidak apa-apa, Nak…” Sungguh, kalimat itu adalah bentuk cinta paling tulus seorang ibu yang diselipkan dalam keikhlasan murni.
Dalam rentang waktu pernikahan, banyak momen indah telah tercipta bersamanya. Meski tak selalu satu rumah, kita pernah memasak bersama, tertawa di dapur, bercanda dengan cucu-cucu kecilnya, berbagi kisah lucu, hingga sesekali bercerita ringan sebagai dua perempuan.
Sayangnya, momen-momen itu jarang diabadikan. Kita terlalu percaya bahwa waktu selalu ada. Padahal, kini semua hanya tinggal kenangan—yang terasa sangat berharga karena tak mungkin terulang.
Aku bersyukur pernah mengenal Mamah—bukan sekadar ibu mertua, tapi juga pejuang dakwah. Mamah yang senang berbagi kisah pengajian, yang tak lelah mengingatkan kami untuk menjaga niat dalam jalan dakwah, yang menyelipkan cerita-cerita kecil penuh makna tentang masa kecil suami.
Ia bukan hanya tempat curhat, tapi juga penyemangat saat pernikahan terasa berat, penyejuk kala hati letih, penolong saat langkah bimbang.
Mamah adalah ibu. Sama seperti ibu kandung kita. Doanya menembus langit. Ia mungkin tak banyak bicara, tapi tangannya senantiasa menengadah, memohon keselamatan dan kebahagiaan bagi anak-anaknya.
Ia adalah perisai tak terlihat dari segala musibah—dengan cinta yang tak pernah diumbar, dan doa yang tak pernah diminta.
Islam mengajarkan bahwa berbuat baik kepada mertua adalah bagian dari kebaikan kepada orang tua. Lisan yang lembut, wajah yang ramah, dan sikap hormat adalah amal yang membawa keberkahan dalam rumah tangga.
Rasulullah ﷺ pun memberi teladan: beliau begitu santun kepada mertua-mertua beliau. Maka jika kita memperlakukan mertua bukan hanya karena dia ibu dari pasangan kita, tapi karena Allah, maka keberkahan itu akan berlipat-lipat datangnya.
Untuk Mamah….
penjaga rumah cinta yang kini telah kembali pada Rabb-nya.
Ya Rab…sampaikan rinduku lewat angin yang menyapa.
Sampaikan cintaku melalui doa menembus langit.
Empat belas tahun bersamamu
Adalah hadiah paling indah dari-Nya.
Penuh canda, haru, dan cinta—meski tak semua sempat terekam lensa.
Kini, hanya kenangan yang begitu erat memelukku
dan doa sebagai jembatan
Agar kelak kita dipertemukan kembali
Di Surga yang abadi.
Tanpa jeda. Tanpa perpisahan
Dari menantumu …
yang selalu rindu…
dan menangis diam-diam saat mengingatmu