ETNIKOM.NET, CIREBON – Menjelang datangnya Tahun Baru Islam 1 Muharram atau 1 Suro dalam penanggalan Jawa, Laskar Macan Ali Nuswantara menggelar tradisi jamasan atau prosesi pencucian pusaka di markas besar mereka. Kegiatan ini menjadi agenda tahunan sebagai bentuk pelestarian adat dan budaya warisan leluhur.
Panglima Tinggi Laskar Macan Ali Nuswantara, Prabu Diaz, menjelaskan bahwa tradisi jamasan dilakukan setiap tahun satu hari menjelang 1 Muharram. Tradisi ini bukan hanya sebatas ritual budaya, namun juga merupakan upaya merawat dan menjaga peninggalan leluhur seperti keris, tombak, hingga alat-alat dapur berbahan logam yang usianya telah mencapai ratusan tahun.
“Ini bukan soal mendewakan atau menyembah pusaka. Kami menjaga dan merawat karya agung para leluhur yang dibuat dengan proses spiritual seperti puasa, zikir, dan dengan menyebut nama Allah,” ujar Prabu Diaz. “Kita rawat agar bisa diwariskan ke anak cucu, sebagai bukti bahwa leluhur kita itu hebat dan canggih.”
Pada tahun ini, lebih dari 800 pusaka akan dijamas, terdiri dari berbagai jenis seperti keris, tombak, dan peralatan dapur tradisional. Proses jamasan ini juga diiringi alunan gamelan tradisional “di gandeng” yang usianya diperkirakan sudah mencapai 200 tahun, berasal dari wilayah perbatasan Bumiayu dan Salem, Brebes.
Rangkaian kegiatan menyambut 1 Muharram ini juga akan dilanjutkan dengan malam doa dan tawasul bersama, serta Kirab Agung Kesultanan Cirebon yang akan mengelilingi kota. Sebagai puncaknya, pada 10 Muharram nanti, Laskar Macan Ali akan menyelenggarakan santunan untuk anak yatim piatu, sesuai ajaran Rasulullah SAW yang menjadikan 10 Muharram sebagai hari kebahagiaan bagi para yatim.
“Ini adalah bentuk pengabdian kami, menjaga adat, budaya, sekaligus mengamalkan ajaran Islam dalam bentuk sosial dan spiritual,” tutup Prabu Diaz.
Penulis : JUMS