Korupsi Tak Pernah Reda, Tanda Sistem Kita Sakit

- Redaksi

Jumat, 11 Juli 2025 - 07:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Penulis: Dr. Suhaeni, M.Si: Dosen Universitas Singaperbangsa Karawang

 

ETNIKOM.NET, JAKARTA — Kasus korupsi kembali mengguncang publik. Teranyar, dugaan korupsi pengadaan alat EDC di bank pelat merah menimbulkan kerugian negara hingga Rp2,1 triliun.

Tak kalah mencengangkan, skandal proyek jalan di Sumatera Utara membuka borok pengaturan proyek lewat e-katalog. Dua kasus ini hanyalah potret kecil dari gunung es korupsi yang membusuk dalam sistem negeri ini.

Ironisnya, korupsi terjadi saat pemerintah tengah giat melakukan efisiensi anggaran. Tunjangan guru dipangkas, bantuan iuran dihentikan, dana riset dibatasi, dan alokasi pertahanan dikurangi. Di satu sisi rakyat diminta berhemat, di sisi lain elite kekuasaan justru berfoya-foya dengan anggaran negara.

Mengapa korupsi terus berulang? Mengapa setiap rezim datang membawa janji pemberantasan korupsi, tapi justru praktiknya kian masif? Jawabannya tak cukup hanya menyalahkan individu pelaku. Akar persoalannya jauh lebih dalam: sistem yang membentuk perilaku korup.

Baca Juga :  Refleksi Diri: Muslimah Sejati di Tengah Arus Zaman

Sistem sekuler-kapitalistik yang memisahkan agama dari kehidupan publik telah membuka ruang lebar bagi transaksi kekuasaan. Demokrasi yang berjalan penuh biaya politik mahal menjadikan jabatan sebagai investasi, bukan amanah. Maka wajar jika setelah terpilih, para pejabat justru sibuk “balik modal” — dan korupsi pun menjadi jalan pintas yang dianggap lumrah.

Selama sistem rusak tak diubah, penambahan regulasi, pembentukan lembaga antikorupsi, hingga perbaikan pengawasan hanya akan jadi tambal sulam. Dibutuhkan perubahan mendasar. Sistem Islam layak menjadi alternatif yang kita pertimbangkan.

Islam memandang kekuasaan sebagai amanah ilahi yang harus dipertanggung- jawabkan di hadapan Allah. Kepemimpinan dalam Islam menuntut integritas moral dan spiritual, bukan sekadar keterampilan teknis.

Baca Juga :  Keadilan Palestina dan Bayang - bayang Nasionalisme Sempit

Sejarah mencatat sosok Umar bin Abdul Aziz sebagai pemimpin yang menolak mengambil satu dinar pun dari harta negara kecuali yang menjadi haknya.

Islam juga mengatur sistem ekonomi secara adil dan terhindar dari eksploitasi. Negara wajib menjamin kesejahteraan rakyat, agar tak ada celah bagi tindak kriminal. Distribusi kekayaan, pengelolaan SDA, dan sistem fiskal yang adil menjadi pilar kesejahteraan publik.

Menerapkan sistem Islam memang tak bisa instan. Tapi sebagai bangsa dengan mayoritas Muslim, sudah saatnya kita menoleh ke sistem Islam, bukan hanya sebagai identitas spiritual, tapi sebagai solusi nyata untuk menjawab krisis korupsi yang terus menggerogoti bangsa ini.[]

Berita Terkait

Sekolah Rakyat Antara Kebijakan Populis Tanpa Kajian Akademis dan Redupnya Doa Sang Pengobral Dosa
Gaza Dibantai, Di Mana Para Pemimpin Muslim?
Penghinaan Nabi Berulang, Demokrasi Biang Keladi
Eksistensi, Ruang Publik, dan Syari’at: Sebuah Renungan
Kampus Hebat, Kampus Pencipta Mahasiswa ‘Nakal’
Gencatan Senjata Iran–Israel: Kemenangan Adidaya, Kekalahan Dunia Islam
Refleksi Diri: Muslimah Sejati di Tengah Arus Zaman
Kesejahteraan Guru, Investasi Masa Depan Bangsa
Berita ini 27 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 15 Juli 2025 - 06:59 WIB

Sekolah Rakyat Antara Kebijakan Populis Tanpa Kajian Akademis dan Redupnya Doa Sang Pengobral Dosa

Senin, 14 Juli 2025 - 19:15 WIB

Gaza Dibantai, Di Mana Para Pemimpin Muslim?

Jumat, 11 Juli 2025 - 07:25 WIB

Korupsi Tak Pernah Reda, Tanda Sistem Kita Sakit

Kamis, 10 Juli 2025 - 22:03 WIB

Penghinaan Nabi Berulang, Demokrasi Biang Keladi

Kamis, 10 Juli 2025 - 10:42 WIB

Eksistensi, Ruang Publik, dan Syari’at: Sebuah Renungan

Berita Terbaru

Wisata

Taman Salam, Oase Hijau Tersembunyi di Jatipadang

Jumat, 29 Agu 2025 - 14:00 WIB