ETNIKOM.NET, JAKARTA — Kemenangan Zohran Mamdani sebagai calon walikota New York dari Partai Demokrat mengejutkan banyak pihak. Mengalahkan Andrew Cuomo, politisi kawakan dari dinasti kuat New York, Mamdani tampil sebagai simbol perlawanan terhadap dominasi politik lama.
Presiden Nusantara Foundation di New York, Dr. Imam Shamsi Ali, Lc, M.A, PhD mengatakan bahwa kemenangan ini sebagai titik balik yang mengguncang fondasi oligarki politik Amerika.
“Ini bukan sekadar kemenangan individu, tapi kemenangan rakyat melawan kekuasaan lama yang mapan,” tegas Shamsi Ali dalam keterangannya, Selasa (2/7/25).
Mamdani, seorang Muslim, bukan pebisnis, bukan elit, dan tak disokong para taipan, berhasil menumbangkan nama besar hanya dengan kekuatan gerakan akar rumput.
Imam Shamsi menyebut, efek kemenangan Zohran tak main-main. Sekitar 6.000 anak muda di Amerika langsung mendaftarkan diri sebagai calon legislatif di berbagai level. Politik yang selama ini dianggap elitis dan menjenuhkan, kini kembali diminati karena hadirnya sosok yang otentik dan berani seperti Zohran.
Tidak kalah menarik, Zohran Mamdani tampil percaya diri sebagai seorang Muslim, bahkan di tengah sentimen Islamofobia dan dominasi komunitas Yahudi di New York. Ia juga tak ragu menyuarakan dukungan untuk Palestina.
“Ini keberanian langka. Di saat banyak politisi menyembunyikan identitasnya, Zohran justru berdiri tegak di atas prinsipnya,” kata Dr Shamsi Ali, Lc, M.A, PhD, Direktur Jamaica Muslim Center New York ini melalui hubungan selular.
Kemenangan ini tambah Shamsi, menunjukkan bahwa uang bukan segalanya dalam politik. Mamdani memulai dengan hanya 1 persen dukungan. Tapi dalam tujuh bulan, ia mampu membalikkan keadaan, menang telak dalam pemilihan primer.
“Bukan soal berapa lama Anda di politik, tapi seberapa kuat Anda menyentuh hati rakyat,” ujarnya.
Meski diserang dengan berbagai stigma—radikal, anti-Yahudi, bahkan dituding sebagai pendukung Hamas—Zohran tak goyah. Justru semua fitnah itu gagal meruntuhkan simpati publik. “Kalau Allah sudah berkehendak, tak ada propaganda yang bisa menghentikan takdir,” ujar Shamsi.
Terakhir, Shamsi menilai, kemenangan ini menyindir keras negara-negara lain yang masih bermain curang dalam pemilu.
“Kalau pemilihan dilakukan dengan jujur dan berintegritas, rakyat pasti memilih yang terbaik—bukan yang terkuat secara uang atau kekuasaan,” pungkasnya.[]
Penulis : Gofur