Keadilan Palestina dan Bayang – bayang Nasionalisme Sempit

- Redaksi

Kamis, 26 Juni 2025 - 11:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Penulis: Hildayanti Yunus | Staf Dinas Perpustakaan dan Kearsipan

 

ETNIKOM.NET, JAKARTA — Di tengah ketidakadilan panjang yang menimpa rakyat Palestina, munculnya gerakan Global March to Gaza (GMtG) adalah cerminan dari suara umat manusia yang tak lagi mampu diam. Ribuan orang dari berbagai negara, agama, dan latar belakang turun ke jalan, menyuarakan satu tuntutan: hentikan genozida atas tanah Palestina.

Mereka tak membawa senjata, hanya keberanian dan hati nurani. Gerakan ini menandai bahwa di luar tembok-tembok diplomasi yang kaku, masih ada denyut kehidupan umat yang jujur ingin membela keadilan.

Namun, di balik gelombang solidaritas global ini, terlihat dengan jelas bagaimana kepentingan negara sering kali membungkam suara keadilan. Banyak negara yang mengaku menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, justru memilih bungkam, bahkan menolak ikut serta, karena khawatir merusak hubungan diplomatik atau ekonomi mereka dengan negara penjajah atau sekutunya.

Bahkan negara-negara dengan mayoritas penduduk muslim pun tak sedikit yang justru memilih diam atau terbatas pada retorika politik tanpa tindakan nyata.

GMtG hadir sebagai tamparan terhadap kebisuan itu. Ketika suara rakyat menembus batas negara, ketika hati nurani tak terikat oleh paspor dan bendera, di situlah letak harapan.

Namun harapan itu terus terancam jika sistem internasional tetap dikendalikan oleh logika kepentingan, bukan keadilan. Sistem negara bangsa modern yang lebih mementingkan stabilitas politik daripada membela yang tertindas, telah menjadi tembok penghalang nyata dalam perjuangan Palestina.

Gerakan seperti GMtG menunjukkan bahwa kekuatan rakyat, solidaritas lintas bangsa, dan keberanian moral masih hidup. Tetapi, selama sistem politik global lebih berpihak pada kepentingan elit daripada jeritan korban, maka suara-suara seperti GMtG akan terus dipinggirkan atau bahkan direpresi.

Baca Juga :  Refleksi Muharram: Mewujudkan Hakikat Hijrah dan Kebangkitan Umat

Kini, saatnya kita bertanya, apakah suara keadilan harus terus kalah oleh hitung-hitungan politik? Sampai kapan dunia akan mengukur penderitaan manusia dengan neraca diplomasi dan kepentingan negara?

Tertahannya para relawan dan bantuan kemanusiaan di pintu Rafah adalah bukti nyata bahwa gerakan kemanusiaan sebesar apapun takkan pernah mampu menyelesaikan masalah Gaza, selama masih ada satu penghalang terbesar yang berhasil dibangun oleh penjajah: nasionalisme dan konsep negara bangsa di negeri-negeri kaum muslimin.

Pintu Rafah bukan hanya gerbang perbatasan Mesir dan Gaza—ia adalah simbol dari batas-batas buatan yang memisahkan satu tubuh umat. Ketika saudara seiman berteriak meminta tolong, tangan-tangan mereka justru dihentikan oleh pagar-pagar legalitas negara dan izin politik.

Inilah wajah pahit dunia yang diatur bukan oleh persatuan akidah, tetapi oleh peta kolonial. Nasionalisme telah mematikan insting kolektif umat Islam sebagai satu kesatuan, menjadikan Palestina bukan lagi masalah umat, melainkan sekadar “isu luar negeri”.

Negara bangsa modern, dengan segala kepentingannya, menjadi tembok tinggi yang menghalangi jihad, solidaritas sejati, dan pembelaan penuh terhadap saudara-saudara kita di Gaza.

Kini saatnya kita sadar bahwa solusi hakiki untuk Palestina bukanlah diplomasi kemanusiaan yang terhalang pintu perbatasan, melainkan persatuan hakiki umat Islam yang melampaui batas-batas negara dan menggugurkan tembok penjajahan dari akarnya.

Islam Bebaskan Palestina dari Akarnya

Palestina bukan sekadar konflik kemanusiaan—ia adalah luka umat yang belum sembuh karena akar penyakitnya belum dicabut. Setiap tahun kita saksikan bantuan datang dan pergi, konferensi diadakan, kutukan dilontarkan, namun penjajahan terus berlanjut.

Baca Juga :  Belanda, Dari Rempah-Rempah Hingga Neo Kolonialisme Penjajah

Penyakit penjajahan ini tidak bisa diobati dengan balutan diplomasi, melainkan harus diakhiri dengan mencabut sistem yang menopangnya.
Sistem negara bangsa, yang diwariskan oleh kolonialisme Barat telah memecah umat Islam menjadi lebih dari 50 negara.

Setiap negara sibuk dengan kepentingan nasionalnya sendiri, terikat oleh perjanjian-perjanjian internasional yang mengharamkan persatuan hakiki. Padahal, dalam Islam, umat ini adalah satu tubuh. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakannya dengan tidak tidur dan demam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Lalu, di mana tubuh itu kini? Mengapa saat Gaza digempur, sebagian negara muslim justru membuka hubungan dagang dengan penjajah? Mengapa perbatasan tetap tertutup, padahal anak-anak syuhada menangis menanti bantuan?

Jawabannya jelas, karena kita tidak lagi hidup dalam satu kepemimpinan Islam global. Ketiadaan kepemimpinan dalam naungan islam sebagai institusi pemersatu umat dan pelindung kehormatan kaum muslimin adalah musibah terbesar umat ini.

Dalam sejarah Islam, Palestina pernah dibebaskan oleh Shalahuddin Al-Ayyubi bukan dengan bantuan kemanusiaan, tetapi dengan jihad fi sabilillah yang dipimpin oleh negara Islam yang bersatu.

Solusi ini bukanlah utopia. Ia pernah nyata dalam sejarah. Ia hanya dianggap mustahil karena dunia hari ini didikte oleh narasi Barat yang menertawakan syariat, dan umat Islam dibuat sibuk dengan batas bendera, bukan ikatan akidah. Wallahu alam bisshawab.[]

Berita Terkait

Sekolah Rakyat Antara Kebijakan Populis Tanpa Kajian Akademis dan Redupnya Doa Sang Pengobral Dosa
Gaza Dibantai, Di Mana Para Pemimpin Muslim?
Korupsi Tak Pernah Reda, Tanda Sistem Kita Sakit
Penghinaan Nabi Berulang, Demokrasi Biang Keladi
Eksistensi, Ruang Publik, dan Syari’at: Sebuah Renungan
Kampus Hebat, Kampus Pencipta Mahasiswa ‘Nakal’
Gencatan Senjata Iran–Israel: Kemenangan Adidaya, Kekalahan Dunia Islam
Refleksi Diri: Muslimah Sejati di Tengah Arus Zaman
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 15 Juli 2025 - 06:59 WIB

Sekolah Rakyat Antara Kebijakan Populis Tanpa Kajian Akademis dan Redupnya Doa Sang Pengobral Dosa

Senin, 14 Juli 2025 - 19:15 WIB

Gaza Dibantai, Di Mana Para Pemimpin Muslim?

Jumat, 11 Juli 2025 - 07:25 WIB

Korupsi Tak Pernah Reda, Tanda Sistem Kita Sakit

Kamis, 10 Juli 2025 - 22:03 WIB

Penghinaan Nabi Berulang, Demokrasi Biang Keladi

Kamis, 10 Juli 2025 - 10:42 WIB

Eksistensi, Ruang Publik, dan Syari’at: Sebuah Renungan

Berita Terbaru

Wisata

Taman Salam, Oase Hijau Tersembunyi di Jatipadang

Jumat, 29 Agu 2025 - 14:00 WIB