Penulis: Dr. H. J. Faisal | Dosen Prodi PBA, PAI, dan Pascasarjana UNIDA Bogor / Direktur Logos Institute for Education and Sociology Studies (LIESS) / Pemerhati Pendidikan dan Sosial / Anggota PJMI
ETNIKOM. NET, JAKARTA — Suatu hari, saya menerima pesan WhatsApp dari salah satu mahasiswa Prodi Bahasa Arab yang tengah menempuh pendidikan S1. Dalam pesannya, ia menawarkan paket wisata arung jeram (rafting) milik keluarga kepada saya. Tak hanya menawarkan, ia juga dengan jujur bertanya bagaimana cara memasarkan produk wisata ini agar lebih dikenal.
Kebetulan, saya memiliki jadwal mengajar di kampus. Maka saya temui mahasiswa tersebut dan memberikan penjelasan singkat mengenai strategi pemasaran jasa wisata, berdasarkan pengetahuan saya di bidang ekonomi saat kuliah dulu.
Yang membuat saya kagum adalah, meskipun ia tengah menempuh studi di bidang pendidikan Bahasa Arab, ia berani menjajal dunia bisnis wisata yang jelas berbeda dari bidang studinya. Inilah yang saya maksud sebagai bentuk “kenakalan” kreatif—kemauan untuk keluar dari zona nyaman, mencoba hal baru, dan membuktikan bahwa keingintahuan lebih penting daripada sekadar kepatuhan.
Kampus seharusnya menjadi tempat memancing semangat eksplorasi, bukan membentuk lulusan penurut. Untuk apa ada pendidikan tinggi jika hanya mencetak mahasiswa yang menelan teori usang tanpa daya kritis, apalagi jika dosennya sendiri tidak memahami konteks kekinian?
Tentu saja, “kenakalan” di sini bukan pemberontakan tanpa arah. Yang dimaksud adalah curiosity-driven rebellion—semangat untuk mempertanyakan, mencoba, dan mencari solusi di luar pakem lama. Kampus harus jadi ruang eksperimen ide, bukan museum teori. Mahasiswa harus terbiasa berpikir kritis, bertanya, dan merumuskan solusi berbasis realitas sosial.
Dosen, Agen Perubahan Bukan Sekadar Penilai Akademis
Kampus yang hebat bukan hanya mencetak sarjana, tetapi juga merangsang lahirnya inovator. Dosen tak seharusnya sekadar mengisi rubrik nilai, melainkan menjadi pemantik kesadaran dan agen perubahan.
Dalam ekosistem pendidikan tinggi yang sehat, dosen dan mahasiswa bersama-sama menjadikan realitas sosial sebagai bahan diskusi akademik. Permasalahan yang dihadapi masyarakat dibawa ke ruang kelas, dikaji dengan teori yang ada, kemudian diuji relevansinya. Jika teori itu tak lagi sesuai, maka saatnya kampus melahirkan teori baru melalui riset.
Sebaliknya, jika dosen hanya sibuk mengurus administrasi kenaikan pangkat, tanpa kepekaan terhadap isu sosial, maka mahasiswa akan kehilangan panutan. Pendidikan pun menjadi rutinitas birokratis, bukan arena transformasi.
Kampus bukanlah menara gading yang asing dari kenyataan, melainkan harus menjadi ruang refleksi dan produksi solusi. Mahasiswa belajar dari teladan dosennya—dalam keberpihakan, keberanian berpikir, dan tanggung jawab moral terhadap persoalan zaman.
Lulusan Kampus Seharusnya Bicara Soal Apa?
Di masa depan, mahasiswa kita tidak akan ditanya sekadar “Do you speak English?” atau “Do you speak Arabic?” Pertanyaan yang muncul adalah: “Do you speak about green economy?”, “Do you speak about humanitarian issues?”, atau “Do you speak about renewable energy and AI ethics?”
Kampus unggul adalah yang mampu mencetak lulusan yang “nakal” dalam konteks inovatif—berpikir kritis dan solutif dalam menghadapi masalah global, baik di bidang sosial, ekonomi, teknologi, maupun lingkungan.
Contohnya, kampus Bina Nusantara (BINUS) dikenal berani menjembatani dunia kampus dan industri, UI dan ITB unggul di riset, Telkom University dan ITS menguasai ranah digital dan teknologi. Mereka berhasil karena membiarkan “kenakalan” mahasiswa dan dosennya tumbuh menjadi inovasi.
Sebaliknya, jika kampus hanya mencetak lulusan untuk antre jadi pegawai biasa, itu pertanda kegagalan sistem. Karena itu, kampus harus menjadi tempat penggodokan ide, laboratorium sosial yang mendobrak batas, dan bukan sekadar tempat menimba ijazah.
Bayangkan jika kelas-kelas kita menjadi ruang prototipe solusi sosial dan teknologi. Betapa luar biasanya Indonesia masa depan. Wallahu a’lam bis shawab.[]