Ironi Beras: Stok Banyak, Harga Melonjak

- Redaksi

Kamis, 26 Juni 2025 - 11:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penulis: Ihta Tiana S. Pi | Pendidik dan Aktivis Muslimah

 

ETNIKOM.NET, JAKARTA — Harga beras naik meski stok melimpah. Menurut data BPS, pada Mei 2025 harga beras di tingkat grosir naik menjadi Rp 13.735/kg dan harga eceran mencapai Rp 14.748/kg (bisnis.com, 17/06/2025).

Walau pemerintah mengklaim stok beras nasional dalam kondisi melimpah, kenyataan di lapangan berkata lain. Lebih dari 130 kabupaten/kota di Indonesia justru mengalami kenaikan harga beras pada pekan kedua Juni.
Kenaikan ini tidak main-main.

Harga beras bahkan melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah. Kondisi ini sangat memukul masyarakat kecil, khususnya kalangan menengah ke bawah, yang pengeluarannya sebagian besar terserap untuk kebutuhan pokok harian seperti beras. Ketika harga naik dan tak terjangkau, daya beli masyarakat pun menurun, dan ini bisa berdampak langsung pada ketahanan pangan keluarga.

Salah satu faktor penyebabnya adalah kebijakan pemerintah yang mewajibkan Bulog menyerap gabah petani dalam jumlah besar untuk menjaga stok. Namun, alih-alih menstabilkan pasokan, kebijakan ini justru menciptakan penumpukan di gudang Bulog.

Akibatnya, distribusi beras ke pasar terganggu. Barang di gudang menumpuk, sementara pasar kekurangan, sehingga harga merangkak naik. Ironisnya, di tengah limpahan stok, masyarakat tetap sulit mendapatkan beras dengan harga terjangkau.

Baca Juga :  Stok Beras Melimpah, Mengapa Harga Justru Naik?

Situasi ini mencerminkan lemahnya sistem pengelolaan pangan dalam sistem kapitalisme. Dalam sistem ini, kebijakan lebih condong mengikuti logika untung-rugi dan kepentingan pasar daripada memenuhi kebutuhan dasar rakyat.

Pemerintah lebih berperan sebagai regulator yang mengatur jalannya sistem, bukan pelaksana yang menjamin kesejahteraan masyarakat. Pangan pun tidak lagi dilihat sebagai hak rakyat yang harus dijamin, melainkan sebagai komoditas yang bisa diperjualbelikan.

Dalam sistem ini, mekanisme pasar—yang dikendalikan oleh pelaku besar dan pemilik modal—memiliki kuasa besar dalam menentukan harga dan distribusi. Akibat pendekatan ini sangat terasa.

Ketika harga naik, bukan para pengusaha besar yang merasakan dampaknya, tetapi masyarakat kecil: buruh, petani, pedagang kecil, dan ibu rumah tangga. Mereka harus berjibaku mengatur pengeluaran agar tetap bisa makan, bahkan terkadang harus mengurangi porsi makan harian demi bertahan.

Sebaliknya, dalam sistem islam, negara memiliki tanggung jawab penuh untuk menjamin pemenuhan kebutuhan pokok setiap individu rakyat, termasuk pangan. Negara tidak akan menyerahkan urusan vital ini kepada mekanisme pasar atau kepentingan swasta.

Pengelolaan pangan dilakukan langsung oleh negara: mulai dari produksi, distribusi, hingga pengelolaan cadangan pangan. Negara memberikan berbagai dukungan kepada petani seperti bibit unggul, pupuk, alat dan sarana produksi pertanian (saprotan) secara cuma-cuma tanpa pungutan, agar produksi berjalan maksimal dan harga tetap terkendali.

Baca Juga :  Pendidikan ala Kapitalisme dan Rendahnya Moral Generasi

Dalam islam, praktik penimbunan pangan yang menyebabkan kelangkaan dan permainan harga dilarang keras. Distribusi diatur agar merata dan tidak hanya menumpuk di kota-kota besar.

Negara menjaga agar harga tetap stabil, bukan dengan menetapkan harga seenaknya, tetapi dengan memastikan keseimbangan antara pasokan dan permintaan sesuai prinsip syariah.

Meskipun harga tetap mengikuti mekanisme pasar, negara tetap hadir untuk menjaga agar pasar berjalan sehat dan bebas dari manipulasi. Syariat Islam melarang intervensi harga yang tidak adil, namun mewajibkan negara menjamin ketersediaan barang agar tidak terjadi ketimpangan distribusi.

Maka jelaslah bahwa persoalan harga pangan yang terus melonjak bukan sekadar akibat dari kebijakan teknis yang keliru, tapi lebih dalam dari itu—akar masalahnya terletak pada sistem yang rusak. Sistem kapitalisme tidak mampu menjamin kesejahteraan rakyat secara menyeluruh.

Solusi sejati tidak cukup hanya dengan revisi regulasi atau tambal sulam kebijakan. Harus sicari sistem alternatif  yang meletakkan kemaslahatan rakyat sebagai prioritas, bukan keuntungan segelintir elite. Itulah islam.[]

Berita Terkait

Sekolah Rakyat Antara Kebijakan Populis Tanpa Kajian Akademis dan Redupnya Doa Sang Pengobral Dosa
Gaza Dibantai, Di Mana Para Pemimpin Muslim?
Korupsi Tak Pernah Reda, Tanda Sistem Kita Sakit
Penghinaan Nabi Berulang, Demokrasi Biang Keladi
Eksistensi, Ruang Publik, dan Syari’at: Sebuah Renungan
Kampus Hebat, Kampus Pencipta Mahasiswa ‘Nakal’
Gencatan Senjata Iran–Israel: Kemenangan Adidaya, Kekalahan Dunia Islam
Refleksi Diri: Muslimah Sejati di Tengah Arus Zaman
Berita ini 33 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 15 Juli 2025 - 06:59 WIB

Sekolah Rakyat Antara Kebijakan Populis Tanpa Kajian Akademis dan Redupnya Doa Sang Pengobral Dosa

Senin, 14 Juli 2025 - 19:15 WIB

Gaza Dibantai, Di Mana Para Pemimpin Muslim?

Jumat, 11 Juli 2025 - 07:25 WIB

Korupsi Tak Pernah Reda, Tanda Sistem Kita Sakit

Kamis, 10 Juli 2025 - 22:03 WIB

Penghinaan Nabi Berulang, Demokrasi Biang Keladi

Kamis, 10 Juli 2025 - 10:42 WIB

Eksistensi, Ruang Publik, dan Syari’at: Sebuah Renungan

Berita Terbaru

Wisata

Taman Salam, Oase Hijau Tersembunyi di Jatipadang

Jumat, 29 Agu 2025 - 14:00 WIB