ETNIKOM.NET, JAKARTA-— Ketegangan global memuncak setelah serangan udara Amerika Serikat menghantam pangkalan militer di Iran pada Jumat, 21 Juni 2025. Aksi ini menuai respons keras dari Iran dan kelompok perlawanan di Timur Tengah, termasuk Brigade Al-Qassam.
Dalam sebuah pernyataan resmi, pemerintah Iran mengancam akan menutup Selat Hormuz—jalur strategis pengiriman minyak dunia—dan segera melancarkan serangan balasan terhadap kepentingan militer Amerika di kawasan Teluk.
“Sebagai langkah pertama, kita harus meluncurkan serangan rudal ke armada Angkatan Laut Amerika yang berbasis di Bahrain dan secara bersamaan menutup Selat Hormuz untuk pelayaran Amerika, Inggris, Jerman, dan Prancis,” ujar salah satu sumber militer Iran.
Iran juga menegaskan bahwa mereka tidak akan menunda respons militernya. Selain itu, sejumlah sekutu dan proksi Iran di kawasan seperti Lebanon, Yaman, dan Suriah disebut-sebut bersiap mengambil tindakan mandiri terhadap kepentingan Amerika tanpa menunggu komando langsung dari Teheran.
Sementara itu, Brigade Al-Qassam—sayap militer Hamas—mengutuk serangan AS ke Iran, menyebutnya sebagai bentuk agresi brutal dan pelanggaran hukum internasional.
“Agresi brutal ini adalah eskalasi yang berbahaya, kepatuhan buta terhadap agenda (Israel), pelanggaran mencolok terhadap hukum internasional, dan ancaman langsung terhadap perdamaian dan keamanan global,” bunyi pernyataan resmi Al-Qassam.
Daftar Negara Pendukung Iran yang Berpotensi Terlibat
Situasi ini memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik menjadi perang regional, bahkan skenario perang dunia. Sejumlah negara yang selama ini dikenal sebagai sekutu strategis Iran atau anti-Barat diperkirakan akan memberi dukungan, antara lain: Palestina, Pakistan, Afganistan, Rusia, Venezuela, Lebanon, Yaman, Turki, China, Korea Utara, Suriah, Irak dan Libya.
Jika situasi memburuk, sejumlah negara Islam lainnya yang merasa terganggu atas serangan terhadap Iran juga bisa bergabung, memperluas eskalasi konflik ke skala global.
“Trump Telah Membuka Jalan ke Perang Dunia Ketiga”
Pengamat politik dan militer menyebut langkah Amerika, yang dipicu oleh kebijakan agresif mantan Presiden Donald Trump, telah membuka jalan menuju potensi pecahnya Perang Dunia Ketiga. Situasi ini dinilai sebagai salah satu yang paling genting sejak Perang Teluk.[]
Penulis : Gofur