ETNIKOM.NET, NEW YORK — Imam dan Direktur Jamaica Muslim Center New York, Shamsi Ali, memanfaatkan momen Fourth of July atau Hari Kemerdekaan Amerika Serikat sebagai ajang refleksi tentang makna kebebasan dan kemerdekaan, baik dalam konteks kebangsaan maupun keagamaan.
Dalam refleksi tertulisnya, Sabtu (6/7/2025), Shamsi menyampaikan bahwa kebebasan merupakan hak dasar setiap manusia dan bangsa. Ia menekankan bahwa nilai kemerdekaan sejalan dengan prinsip-prinsip dalam ajaran Islam.
“Ketika seseorang mengucapkan kalimat tauhid, itu bukan sekadar pengakuan teologis, melainkan pernyataan kebebasan. Ia membebaskan diri dari segala bentuk penghambaan kecuali kepada Tuhan,” ujarnya.
Menurut Shamsi, Islam menghargai kebebasan berpikir dan berekspresi. Sejarah menunjukkan bahwa penyebaran Islam lebih banyak dilakukan melalui pendekatan damai, pendidikan, dan interaksi sosial, bukan dengan kekerasan atau pemaksaan. Ia mencontohkan masuknya Islam ke Indonesia yang berlangsung melalui jalur perdagangan.
Di Amerika Serikat sendiri, lanjut Shamsi, nilai kebebasan masih terasa meskipun tidak sempurna. Warga negara, termasuk umat Muslim, masih dapat menjalankan ajaran agamanya, membangun institusi keagamaan, dan menyuarakan pendapat secara terbuka.
“Pada 2019, saat kebijakan Muslim Ban diberlakukan, kami menggelar aksi damai di New York. Yang menarik, sebagian besar peserta aksi justru berasal dari kalangan non-Muslim,” kata Shamsi. Aksi itu mengusung slogan “Today I am a Muslim too” sebagai bentuk solidaritas dan pembelaan terhadap nilai-nilai kebebasan beragama.
Namun demikian, Shamsi juga mengkritisi kebijakan luar negeri Amerika yang dinilainya belum konsisten dalam membela nilai kebebasan. Ia menyebut dukungan tanpa syarat Amerika terhadap Israel sebagai bentuk kontradiksi.
“Amerika membela kebebasan, tetapi menutup mata terhadap penderitaan bangsa Palestina. Ini menjadikan posisi Amerika tampak ganda dan kehilangan logika kemanusiaan,” ujarnya.
Ia berharap peringatan Hari Kemerdekaan Amerika tahun ini menjadi momentum untuk mengevaluasi komitmen terhadap nilai-nilai kebebasan yang bersifat universal.
“Jika kebebasan tidak berlaku untuk semua bangsa, maka peringatan ini menjadi seremonial belaka tanpa makna,” kata Shamsi menutup refleksinya.[]
Penulis : Gofur