Penulis: Dr. Suhaeni, M.Si | Dosen Universitas Singaperbangsa Karawang
ETNIKOM.NET, JAKARTA – Di tengah hiruk-pikuk persoalan dalam negeri, kita tak boleh menutup mata terhadap tragedi kemanusiaan luar biasa yang terus berlangsung di Gaza, Palestina. Serangan demi serangan dari rezim Zionis Israel telah merenggut puluhan ribu nyawa warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak.
Fakta memilukan ini terungkap melalui berbagai laporan media, baik internasional maupun lokal, yang menggambarkan betapa brutal dan tidak berperikemanusiaannya agresi militer Israel terhadap penduduk sipil yang tak berdaya.
Namun, yang lebih menyakitkan adalah sikap sebagian besar pemimpin dunia—terutama dari negara-negara Muslim—yang lebih memilih bungkam, bahkan tetap menjalin hubungan politik dan ekonomi dengan rezim penjajah tersebut.
Ketika rakyat di berbagai penjuru dunia turun ke jalan menuntut dihentikannya genosida, para pemimpin justru sibuk menjaga relasi diplomatik yang menguntungkan, atau takut kehilangan dukungan negara-negara besar. Sikap ini mencerminkan bahwa nilai kemanusiaan telah dikalahkan oleh kepentingan politik dan ekonomi.
Di negara-negara mayoritas Muslim, yang seharusnya menjadikan isu Palestina sebagai persoalan keimanan dan ukhuwah Islamiyah, yang terdengar justru hanya pernyataan-pernyataan lunak, seremonial, tanpa kekuatan nyata untuk menghentikan genosida yang telah berlangsung lebih dari 75 tahun.
Bagi umat Islam, kepedulian terhadap Palestina bukan sekadar pilihan—melainkan kewajiban. Baitul Maqdis bukan hanya wilayah konflik, melainkan tanah suci yang diberkahi, serta bagian dari sejarah dan identitas umat ini.
Membela Gaza berarti membela kehormatan Islam itu sendiri. Maka dari itu, seluruh elemen umat, khususnya para pemimpin negara-negara Muslim, memiliki tanggung jawab besar untuk tidak hanya bersimpati, tetapi bertindak nyata.
Diamnya mereka bukan hanya pengkhianatan terhadap rakyat Palestina, melainkan juga terhadap nilai-nilai Islam dan harapan umat yang mendambakan tegaknya keadilan.
Kita tentu sadar, penyelesaian persoalan Palestina tidak akan tercapai hanya dengan bantuan kemanusiaan atau jalur diplomasi internasional yang terbukti tidak efektif. Solusi hakiki menuntut perubahan mendasar. Umat Islam harus bangkit, menyuarakan kebenaran dengan kesadaran politik yang jernih, serta mendesak para pemimpin agar melepaskan ketergantungan dari kekuatan-kekuatan penjajah.
Selama tatanan dunia masih dikendalikan oleh pihak-pihak yang mendukung penjajahan, keadilan hanyalah mimpi semu.
Oleh karena itu, gerakan dakwah yang mencerdaskan dan membangun kesadaran politik umat harus terus digelorakan. Umat perlu diyakinkan bahwa satu-satunya jalan pembebasan Palestina adalah melalui pengiriman kekuatan riil yang mampu menghadapi kezaliman Zionis Israel.
Langkah ini hanya mungkin diwujudkan secara efektif bila umat bersatu dalam satu institusi politik yang menerapkan hukum Allah secara menyeluruh.
Para pengemban dakwah memikul amanah besar untuk menanamkan kesadaran ini. Mereka harus tetap istiqamah di tengah berbagai tekanan, menjaga ketulusan dalam menyampaikan kebenaran, dan terus menggugah nurani umat serta para pemimpin.
Diperlukan upaya serius untuk mengubah opini publik: bahwa Palestina bukan sekadar isu Arab atau konflik regional, melainkan persoalan seluruh umat Islam—bahkan isu kemanusiaan global. Ketika opini ini menjadi kesadaran umum, umat akan bergerak lebih kuat, dan para pemimpin tak bisa lagi bersembunyi di balik diplomasi kosong.
Gaza kini sedang terbakar. Anak-anaknya menangis kehilangan ayah. Ibu-ibunya merintih kehilangan seluruh keluarga. Mereka tak hanya butuh bantuan, tapi butuh pembebasan. Maka, tak cukup hanya menggalang donasi.
Tak cukup hanya berdoa. Kita perlu memperkuat tekanan politik dan moral kepada para pemimpin—terutama dari negara-negara mayoritas Muslim. Umat harus bersatu, menuntut sikap tegas untuk menghentikan segala bentuk kerja sama dengan rezim Zionis, serta mendukung upaya pembebasan yang hakiki.
Kini saatnya umat Islam sadar dan bertindak. Saatnya para pemimpin Muslim berhenti berpura-pura tidak tahu. Palestina menanti uluran tangan dan keberanian kita semua. Diam adalah bentuk pengkhianatan. Peduli bukan sekadar pilihan—melainkan kewajiban yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.[]