ETNIKOM.NET, JAKARTA — Betawi bukan hanya kaya akan budaya dan tradisi, tetapi juga memiliki ragam kuliner khas yang menggugah selera. Di antara berbagai makanan dan minuman tradisionalnya, Dodol Betawi dan Bir Pletok menempati tempat istimewa. Keduanya bukan sekadar panganan, tapi juga simbol kearifan lokal yang melekat erat dalam setiap perayaan dan acara adat masyarakat Betawi.
Dodol Betawi: Manis, Legit, dan Sarat Makna
Dodol Betawi dikenal dengan teksturnya yang kenyal, rasa manis legit, dan aroma khas santan yang wangi. Dibuat dari campuran ketan, gula merah, dan santan kelapa, proses pembuatannya terbilang panjang dan melelahkan. Tak heran jika dodol Betawi sering kali dibuat secara gotong-royong menjelang Lebaran atau acara hajatan besar seperti pernikahan.
Yang membedakan dodol Betawi dengan dodol dari daerah lain adalah konsistensinya yang lebih padat dan rasa gurih santan yang terasa lebih kuat. Proses pengadukan selama berjam-jam tanpa henti di atas tungku api melambangkan nilai kesabaran dan kerja sama dalam budaya Betawi.
Dodol Betawi bukan sekadar makanan penutup, tapi juga memiliki filosofi mendalam. Dalam tradisi Betawi, dodol menjadi simbol ikatan keluarga dan keharmonisan sosial. Dodol biasanya dibagi-bagikan kepada tetangga sebagai wujud silaturahmi dan rasa syukur.

Bir Pletok: Minuman Hangat yang Halal dan Menyegarkan
Meski menyandang nama “bir”, Bir Pletok sama sekali tidak mengandung alkohol. Nama ini berasal dari suara “pletok!” saat botol minuman diguncang dengan es batu, menciptakan buih layaknya bir pada umumnya. Minuman ini adalah alternatif sehat yang lahir dari kreativitas masyarakat Betawi, untuk menghadirkan sensasi minuman khas Eropa tanpa melanggar nilai-nilai Islam.
Bir Pletok terbuat dari rempah-rempah seperti jahe, kayu manis, daun pandan, cengkeh, dan serai, ditambah dengan sedikit gula dan pewarna alami dari kayu secang yang memberikan warna merah cantik. Rasanya hangat di tenggorokan, manis, dan menyegarkan, sangat cocok diminum malam hari atau saat cuaca dingin.
Minuman ini dulu sering disajikan oleh orang tua Betawi sebagai penghangat badan sekaligus penolak masuk angin. Kini, Bir Pletok kembali naik daun sebagai minuman tradisional yang tidak hanya lezat tapi juga menyehatkan.
Di Mana Menikmati Dodol Betawi dan Bir Pletok?
Bagi yang ingin mencicipi kuliner khas Betawi ini, ada beberapa tempat yang bisa dikunjungi:
Setu Babakan – Jakarta Selatan
Merupakan pusat perkampungan budaya Betawi. Di sini, pengunjung bisa melihat langsung proses pembuatan dodol Betawi secara tradisional, terutama saat ada acara budaya. Bir pletok juga banyak dijajakan di stan-stan kuliner.
Pasar Mayestik dan Pasar Jatinegara – Jakarta
Banyak penjual oleh-oleh khas Betawi yang menjajakan dodol kemasan dan bir pletok dalam botol. Cocok sebagai buah tangan khas Jakarta.
Festival Lebaran Betawi
Event tahunan ini selalu menghadirkan dodol Betawi dan bir pletok sebagai sajian utama. Biasanya digelar di Monas atau Lapangan Banteng. Waktu terbaik untuk mencicipi kuliner Betawi sambil menikmati pertunjukan budaya.
UMKM Betawi dan Toko Oleh-Oleh Khas Jakarta
Kini banyak UMKM Betawi yang menjual dodol dan bir pletok secara daring melalui marketplace atau media sosial. Beberapa bahkan sudah bersertifikat halal dan berlabel BPOM.
Melestarikan Warisan Kuliner Betawi
Dodol Betawi dan Bir Pletok merupakan dua dari sekian banyak kuliner Betawi yang menjadi warisan budaya tak benda. Keduanya memperkaya khazanah kuliner Nusantara dan memperkuat identitas masyarakat Betawi di tengah modernisasi.
Pelestarian keduanya menjadi penting, terutama di tengah gempuran makanan cepat saji dan minuman instan. Berbagai komunitas dan festival Betawi pun rutin mengangkat kembali dua ikon ini dalam kegiatan budaya agar tidak punah ditelan zaman.
Menikmati dodol Betawi dan menyeruput bir pletok bukan hanya soal rasa, tetapi juga sebuah perjalanan menyelami nilai, sejarah, dan kebanggaan akan warisan kuliner lokal. Mari kita lestarikan, cintai, dan wariskan rasa Betawi yang autentik ini kepada generasi mendatang.[]
Penulis : Gofur