ETNIKOM NET, NEW YORK — Kemenangan Zohran Mamdani dalam pemilihan pendahuluan Partai Demokrat untuk pemilihan Wali Kota New York mengejutkan banyak pihak, tak hanya di Amerika Serikat namun juga dunia.
Hal ini disampaikan langsung oleh tokoh Muslim terkemuka di New York, Dr. Imam Shamsi Ali, Lc, M.A, PhD mengenai dinamika politik terbaru di kota metropolitan tersebut ke Redaksi, Jumat (27/6/25).
Zohran, sosok muda berusia 33 tahun, imigran, dan seorang Muslim, berhasil menumbangkan kandidat kuat Andrew Cuomo—mantan Gubernur New York yang dikenal sebagai tokoh senior dalam Partai Demokrat dan berasal dari dinasti politik ternama. Kemenangan ini sekaligus memastikan Zohran maju ke pemilihan umum (general election) pada November mendatang sebagai calon resmi dari Partai Demokrat.
Peluang dan Peta Politik
Imam Shamsi Ali menyebut peluang Zohran cukup besar, mengingat dominasi Partai Demokrat yang sudah lama berlangsung di New York City. Sejak Rudy Giuliani dari Partai Republik mengakhiri masa jabatannya pada 2001, kursi wali kota selalu dipegang oleh tokoh-tokoh Demokrat atau independen yang memiliki kedekatan dengan mereka.
Selain dukungan dari pemilih tradisional Demokrat, Zohran juga memiliki basis kuat dari kalangan muda, komunitas imigran, dan kelompok progresif lintas partai. Bahkan, komunitas Muslim di kota ini diprediksi akan menjadi kekuatan penting dalam menentukan kemenangan, dengan lebih dari 200.000 pemilih Muslim terdaftar di Partai Demokrat.
“Jika komunitas Muslim bersatu dan menggunakan hak pilihnya, ini akan menjadi kemenangan besar. Ini momen bersejarah,” ujar Imam Shamsi dalam pernyataannya.
Ancaman dan Strategi Penggagalan
Namun, kemenangan Zohran juga memunculkan gelombang penolakan dari kelompok-kelompok tertentu. Imam Shamsi menyoroti bahwa status Zohran sebagai Muslim dan sikapnya yang tegas dalam membela hak-hak Palestina membuatnya menjadi target kampanye negatif.
“Ada upaya serius untuk menggagalkannya, dari kelompok rasis, Islamofobia, hingga Zionis ekstrem. Mereka akan menggunakan media dan dana besar untuk menyerang karakter dan membangun narasi anti-Semitisme terhadap Zohran,” ungkap Shamsi.
Strategi pembunuhan karakter (character assassination) diyakini akan menjadi senjata utama lawan-lawan politiknya. Bahkan, tidak menutup kemungkinan sebagian elite Partai Demokrat akan memberi dukungan pada calon lain untuk menghalangi Zohran.
Persaingan Ketat
Saat ini, setidaknya tiga nama besar telah muncul sebagai calon Wali Kota New York:
Zohran Mamdani dari Partai Demokrat.
Eric Adams, petahana yang kini mencalonkan diri sebagai independen setelah tersandung dugaan korupsi.
Curtis Sliwa, tokoh konservatif yang diusung oleh Partai Republik.
Imam Shamsi menilai Eric Adams sebagai lawan yang paling berpotensi mengimbangi Zohran. Adams masih memiliki jaringan loyalis dalam birokrasi kota dan bisa mendapat dukungan tambahan dari kelompok-kelompok yang merasa terancam dengan kemenangan Zohran. Ada kemungkinan juga Curtis Sliwa akan mundur untuk mengalihkan dukungan kepada Adams demi menyatukan suara konservatif.
“Eric Adams akan menjadi ‘Republikan sesungguhnya’ dalam kontestasi ini, terutama dengan dukungan kelompok Zionis yang takut akan posisi Zohran dalam isu Palestina,” lanjut Shamsi.
Adams sendiri diketahui mulai meluncurkan berbagai inisiatif untuk merangkul komunitas Yahudi, terutama dalam isu anti-Semitisme, yang oleh Shamsi disebut sebagai langkah politis oportunistik.
Momentum Perubahan
Meski tekanan besar kemungkinan akan datang dari berbagai arah, Imam Shamsi tetap optimistis. Ia menilai, gerakan rakyat yang dipelopori oleh Zohran sudah menyentuh kesadaran kolektif masyarakat, terutama generasi muda, imigran Asia, Afrika, hingga Amerika Latin yang ingin melihat perubahan nyata.
“Ini saatnya. Komunitas Muslim dan semua warga yang peduli keadilan harus bergerak bersama. Mari antarkan Zohran Mamdani menjadi wali kota pertama yang Muslim di kota paling berpengaruh di dunia. InsyaAllah!” tutup Imam Shamsi Ali.[]
Penulis : Gofur