ETNIKOM NET, JAKARTA — Kalau bicara tentang seniman Betawi, nama Benyamin Sueb pasti ada di urutan paling atas. Lahir di Kemayoran, Jakarta, pada 5 Maret 1939, Bang Ben—begitu ia akrab disapa—adalah sosok multitalenta: penyanyi, aktor, pelawak, penulis lagu, bahkan produser dan penyiar radio. Sosoknya begitu melekat dengan identitas budaya Betawi. Lewat karya-karyanya, ia tidak hanya menghibur, tapi juga mengangkat martabat budaya Betawi ke panggung nasional.
Dari Musik ke Dunia Film
Karier Benyamin dimulai dari dunia musik. Bersama grup Melodi Ria, ia memainkan berbagai genre—dari gambang kromong, jazz, rock, hingga dangdut—semuanya dibumbui gaya khas Betawi. Ia dikenal jago main clarinet, saksofon, hingga gitar. Dari sinilah muncul lagu-lagu legendaris seperti: “Nonton Bioskop”, “Hujan Gerimis”, “Kompor Meleduk”, “Tukang Kredit”, “Pungli”, “Si Jampang”, dan “Ondel-Ondel”.
Lagu-lagunya kocak tapi penuh kritik sosial, menggambarkan realitas hidup warga Jakarta, mulai dari kemacetan, pungli, hingga pergaulan anak muda.
Bersinar di Dunia Film: Antara Layar Lebar dan Layar Tawa
Benyamin masuk dunia film sejak awal 1970-an dan langsung melejit. Film “Banteng Betawi” (1971) dan “Intan Berduri” (1972, bareng Rima Melati) membuat namanya semakin besar. Ia bahkan menyabet Piala Citra sebagai Pemeran Utama Terbaik.
Film-filmnya laris dan sangat khas Betawi, antara lain: Si Doel Anak Betawi (1972), Si Doel Anak Modern (1975), Benyamin Biang Kerok (1972), Traktor Benyamin (1975), Tarzan Kota (1974), Betty Bencong Slebor (1978), Tiga Janggo (1976).
Tak cuma berakting, Benyamin juga menyutradarai dan memproduksi film lewat PT Jiung Film, rumah produksi yang ia dirikan sendiri. Ini menunjukkan totalitasnya dalam berkesenian.
Konsisten Mengangkat Budaya Betawi
Yang bikin Bang Ben istimewa bukan cuma karena ia lucu atau jago nyanyi. Tapi karena ia konsisten menjadikan budaya Betawi sebagai napas dalam semua karyanya. Gaya bahasanya, gaya bercanda, lagu-lagunya, hingga cerita film yang ia garap—semua menampilkan karakter asli masyarakat Betawi yang egaliter, ceplas-ceplos, tapi tulus.
Lewat karyanya, Benyamin menampilkan sisi urban Jakarta tanpa meninggalkan akar lokalitas. Ia berani mengangkat suara rakyat kecil dalam bentuk seni yang membumi dan menghibur.
Bens Radio: Suara Betawi dari Jakarta
Salah satu warisan penting Benyamin Sueb adalah Ben’s Radio. Dirintis pada 5 Maret 1990 (tepatan dengan ulang tahunnya), radio ini memang lahir dari kegelisahannya melihat budaya Betawi mulai tersisih di tengah modernisasi Jakarta.
Dengan tagline “Radio Orang Betawi”, Ben’s Radio memutar lagu-lagu Betawi, menghadirkan guyonan khas kampung, sampai diskusi budaya. Ini bukan sekadar siaran hiburan, tapi misi pelestarian budaya lewat media massa. Dan terbukti, Ben’s Radio tetap eksis sampai sekarang sebagai media yang setia mengangkat suara lokal Jakarta
Penghargaan dan Pengakuan
Benyamin wafat pada 5 September 1995 akibat serangan jantung usai bermain sepak bola. Tapi jasanya tidak pernah padam. Ia mendapat berbagai penghargaan, di antaranya:
Bintang Budaya Parama Dharma (2011) dari Presiden SBY
Nama Jalan: Landas Pacu Benyamin Sueb di Kemayoran
Taman Benyamin Sueb di Jatinegara sebagai pusat budaya Betawi. Google Doodle pada 22 September 2020 untuk mengenangnya
Fakta Menarik Lain soal Benyamin Sueb
Berguru Musik Otodidak: Ia belajar musik secara mandiri sejak remaja. Sempat jadi Pegawai Pemda DKI sebelum fokus jadi seniman.
Kolaborasi Ikonik dengan Ida Royani, pasangan duet dalam lagu-lagu cinta dan humor Betawi.
Pernah Menyuarakan Kritik Politik Sosial lewat lagu, seperti Pungli dan Tukang Kredit, dengan gaya jenaka tapi tajam.
Mempunyai 10 Anak, dan salah satu anaknya, Bing Ben, sempat mengikuti jejak di dunia musik.
Suka Main Sepak Bola, bahkan wafat saat bermain bola dengan teman-temannya
Benyamin, Lebih dari Sekadar Komedian
Benyamin Sueb bukan hanya ikon Betawi, tapi juga simbol bahwa budaya lokal bisa berbicara di panggung nasional bahkan internasional.
Dengan gaya ceplas-ceplos, suara khas, dan tawa yang renyah, ia membuktikan bahwa kesenian itu bisa jadi media perjuangan. Perjuangan menjaga budaya, menyuarakan yang kecil, dan membangun jati diri Jakarta.[]
Penulis : Gofur