ETNIKOM.NET, JAKARTA — Kabupaten Pati di pesisir utara Jawa Tengah tidak hanya dikenal sebagai daerah agraris dan penghasil kuliner khas seperti bandeng presto dan nasi gandul, tetapi juga sebagai wilayah yang sarat dengan nilai-nilai religius. Budaya religius di Pati tumbuh dari perpaduan antara tradisi Islam, kearifan lokal Jawa, dan warisan sejarah para wali.
Jejak Sejarah Islam di Pati
Pati memiliki ikatan erat dengan sejarah penyebaran Islam di Jawa. Sejumlah tokoh penting seperti Sunan Muria dan Sunan Kudus memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter religius masyarakatnya. Masjid-masjid tua dengan arsitektur khas Jawa—atap tumpang, ornamen ukir, dan ukiran kaligrafi—masih berdiri sebagai saksi perjalanan dakwah di wilayah ini.
Tradisi Keagamaan yang Lestari
Budaya religius di Pati terwujud dalam berbagai tradisi yang dilaksanakan turun-temurun. Beberapa di antaranya adalah:
Grebeg Maulud yang meriah, sebagai bentuk penghormatan dan perayaan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Pengajian Rutin dan Tahlilan yang menjadi sarana silaturahmi sekaligus memperkuat ukhuwah antarwarga.
Harmoni Agama dan Budaya
Khasnya budaya religius Pati adalah kemampuannya menjaga harmoni antara ajaran agama dan tradisi lokal. Upacara adat kerap dimulai dengan doa bersama, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, atau tausiyah. Nilai gotong royong sangat kental, di mana warga bersama-sama mempersiapkan hajatan keagamaan, dari penyediaan hidangan hingga dekorasi.
Pendidikan dan Pesantren
Peran pesantren di Pati sangat dominan dalam membentuk karakter religius generasi muda. Beberapa pesantren besar seperti Tlogowungu dan Margoyoso menjadi pusat pendidikan agama yang juga mengajarkan keterampilan hidup. Santri-santri tidak hanya mendalami ilmu syariah, tetapi juga terlibat dalam kegiatan sosial di masyarakat.
Pesan Moral dari Budaya Religius Pati
Budaya religius di Pati mengajarkan keseimbangan: antara menjalankan syariat, menjaga tradisi, dan membangun keharmonisan sosial.
Di tengah arus modernisasi, masyarakat Pati tetap berpegang pada prinsip bahwa agama adalah pondasi kehidupan, sementara tradisi adalah jembatan yang menguatkan identitas.[]
Penulis : Gofur