Cahaya Peradaban, Puisi Karya Farhayyatul Lail

- Redaksi

Sabtu, 5 Juli 2025 - 16:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Di tengah realita yang kian menyiksa,
Kapitalisme sekuler dan demokrasi mencabik dunia tanpa asa.
Polemik merebak hingga pelosok negeri,
Sementara penguasa seakan tuli pada jerit tangis rakyat sendiri.

Dalam sistem cacat yang memiskinkan nurani,
Kita saksikan dengan mata hati—
Saudara seiman di Gaza yang tertindih luka,
Detik demi detik, mereka bertahan dalam duka yang tak terbaca.

Kala kita bersuka dalam baju baru nan bersih,
Mereka berlebaran dalam kafan lusuh dan sunyi.
Kala meja kita dipenuhi ketupat dan opor hangat,
Mereka hanya bisa memandangi tubuh-tubuh tanpa hayat.

Maafkan aku, wahai Muslim Gaza…
Aku yang lemah dan tak berdaya,
Tak mampu mengulurkan tangan meski di hari raya.

Aku—hamba yang rapuh dan penuh cela,
Hanya mampu memanjatkan doa,
Agar cahaya-Nya terus menyala
Menuntunku menembus gulita dunia.

Kini kutemukan jawab dari segala nestapa,
Ternyata luka ini menganga
Karena Islam tak lagi dijadikan poros utama.

Masihkah kita rela hidup dalam belenggu dusta?
Perubahan bukan fatamorgana—ia nyata,
Jika langkah kita satu, untuk syariat-Nya yang mulia.

Mari kita nyalakan suara kebenaran,
Tanpa gentar, tanpa keraguan.
Mari kita bangun kembali peradaban
Dengan petunjuk dari Sang Penguasa Kehidupan.

Hanya Islam kaffah jadi jawaban tak terbantah,
Menembus akar derita dan luka.
Dalam naungan mulia kepemimpinan Islam global di bawah bendera tauhid,
Dunia kan bersinar—dengan cahaya surga.

 

*Puisi ini dibaca oleh Afifah Herliana Dalam acara Liqo Syawal (6/4/25) dan telah disunting redaksi

Berita ini 76 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 5 Juli 2025 - 16:07 WIB

Cahaya Peradaban, Puisi Karya Farhayyatul Lail

Berita Terbaru

Wisata

Taman Salam, Oase Hijau Tersembunyi di Jatipadang

Jumat, 29 Agu 2025 - 14:00 WIB