Penulis: Halizah Hafaz Hts, S.Pd | Aktivis Dakwah dan Praktisi Pendidikan
ETNIKOM.NET, JAKARTA – Generasi muda, banyak harapan ada dalam dirinya. Ada banyak gelar yang dapat diberikan kepadanya. Namun, banyak generasi muda yang terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba hingga menambah tingginya tingkat kriminalitas.
Hal itu pun terjadi pada lima pemuda asal kota Medan, Sumatera Utara yang didakwa menjadi kurir narkoba jenis ganja sebanyak 46 kg. Para terdakwa mengaku bahwa pembelian ganja dilakukan di Provinsi Aceh.
Alhasil, seperti dikuti medanbisnisdaily.com (4/6/15) bisni para terdakwa terancam hukuman maksimal penjara seumur atau pidana mati sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.
Peredaran narkoba yang makin merebak ini makin mudah untuk didapatkan oleh semua kalangan, tidak hanya kalangan dewasa dan remaja, namun juga di kalangan anak kecil.
Oleh karena itu, kita harus menjaga anak-anak sebagai generasi muda dari peredaran narkoba. Kita pun harus mempelajari tanda-tanda narkoba yang mempengaruhi orang terdekat agar mereka tidak menjadi korban narkoba.
Narkoba, yang merupakan zat adiktif, sangat berbahaya bagi manusia dan dapat menyebabkan gangguan mental, kesehatan, atau bahkan kematian. Efek candu narkoba ini dapat membuat pengguna kesulitan untuk berhenti menggunakannya. Jadi, narkoba menjadi salah satu barang yang dilarang peredarannya.
Narkoba memiliki banyak jenis sesuai dengan manfaatnya masing-masing. Namun demikian, efek yang paling umum dari narkoba adalah halusinasi.
Sebagian besar orang yang menggunakan narkoba ini adalah mereka yang merasa hidup mereka tidak menyenangkan atau memiliki perasaan hati yang selalu naik-turun.
Mereka menggunakan narkoba ini untuk mendapatkan sensasi ekstasi, atau kebahagiaan, meskipun hanya untuk waktu yang singkat, tanpa mempertimbangkan efek negatifnya.
Mengonsumsi narkoba dapat menyebabkan efek negatif seperti depresi, peningkatan detak jantung, gangguan pernapasan, dan berbagai gangguan kesehatan lainnya, dan bahkan lebih parahnya lagi dapat mengarah pada kriminalitas.
Namun sayangnya, meski pemerintah telah melarang peredaran narkoba, tetap saja masih ada beberapa pengedar yang lolos dari pengawasannya.
Bahkan tidak jarang pula yang akhirnya terungkap ke media. Dengan semua fakta yang ada, jelas bahwa kasus narkoba ini tidak akan pernah berakhir.
Pemerintah pun tidak cukup untuk mencegah pelaku kriminal melakukan kejahatan. Pasalnya, kasus narkoba bukannya menurun, malah makin meningkat.
Kapitalisme Sekuler Biang Peredaran Narkoba
Narkoba telah jelas bahayanya, tetapi peredarannya tetap terus berjalan. Mengapa ini semua bisa terjadi? Pasalnya, negara ini menerapkan ideologi kapitalis dengan landasan akidah sekuler yang menganggap bahwa kehidupan harus dipisahkan sejauh-jauhnya dari agama.
Sistem kapitalisme pun melahirkan paham liberalisme yang berpendapat bahwa setiap orang berhak atas kebebasan yang tidak terbatas, tanpa mempertimbangkan nilai-nilai moral.
Karena itu, tidak heran bahwa sebagian orang menganggap narkoba, yang sebenarnya berbahaya, sebagai hal yang normal. Pasalnya, mereka percaya bahwa narkoba adalah salah satu kebebasan yang harus mereka jaga. Selain itu, anak adalah amanah bagi orang tuanya.
Sehingga peran orang tua dalam menjaga, mendidik dan merawat anaknya sangat diharapkan optimal dalam penjagaan generasi agar jauh dari bahaya narkoba.
Lagi dan lagi, sistem ini punya andil dalam mengedukasi orang tua yang tidak mengetahui peran hakiki mereka dalam mengurus anak. Alhasil, banyak orang tua kini terlalu sibuk bekerja bahkan kedua orang tua sama-sama bekerja karena keterbatasan ekonomi, sehingga lahirlah anak-anak yang kurang perhatian dari orang tuanya.
Mirisnya, bangunan keluarga tersebut menjurus pada broken home. Memang, tidak semua anak-anak yang berada dalam keadaan kedua orang tua bercerai memiliki perangai buruk.
Namun, kebanyakan anak-anak yang mengalami masalah hukum berasal dari keluarga yang tidak sempurna. Mereka cenderung melakukan hal-hal yang tidak menyenangkan untuk menarik perhatian kedua orang tuanya yang telah berpisah.
Kemudian, banyak orang tua yang kurang sadar pada pendidikan dalam berumah tangga, baik dalam pola asuh dan mendidik anak. Bahkan orang tua yang tidak memahami Islam dalam mendidik anaknya menjadi satu sebab orang tua tidak tau cara mendidik anak dengan baik.
Sehingga pendidikan keluarga sangat penting untuk menghasilkan generasi terbaik. Dari sini membuktikan bahwa penerapan sistem kapitalisme berdampak pada pendidikan kini.
Sistem ini membentuk keluarga yang berfokus pada pemenuhan materi semata. Kebutuhan anak terpenuhi, tetapi mereka kurang memahami ilmu agama.
Pada akhirnya, mereka tidak memiliki perlindungan agama (Islam) dalam kehidupan mereka dan lebih mudah terpengaruh oleh hal-hal negatif di sekitar mereka.
Sistem Islam Menjaga Kualitas Generasi
Islam adalah agama sempurna yang mengatur semua aspek hidup manusia, bahkan dari aspek paling kecil. Sistem Islam mendidik generasi untuk memiliki kepribadian Islam dan mematuhi syariat, seperti berbakti dan menghormati orang tua.
Mereka tidak mudah terjerumus dalam lingkaran emosi dan hawa nafsu karena mereka dapat mengendalikan garizah baqa’ (naluri mempertahankan diri).
Selain itu, Islam memiliki cara untuk mencegah generasi dari melakukan pelanggaran dan kemaksiatan, baik secara individu, keluarga, masyarakat, dan negara.
Kita benar-benar merindukan generasi yang berkualitas, berbudi luhur, dan cerdas. Generasi ini mustahil berasal dari sistem kehidupan kapitalisme sekuler.
Fakta menunjukkan bahwa makin jauh dari Islam, kerusakan generasi makin parah, dan makin tinggi nilai-nilai sekuler yang diterapkan, maka makin merajalela kejahatan.
Islam memiliki solusi mendasar untuk memperbaiki kualitas generasi. Pertama, ketakwaan individu dalam pendidikan keluarga; pendidikan keluarga adalah sekolah pertama bagi anak-anak.
Setiap keluarga muslim wajib menjadikan akidah Islam sebagai asas dalam mendidik anak-anak mereka. Pendidikan yang didasarkan pada akidah akan membentuk karakter iman dan ketaatan yang dapat mencegahnya berbuat maksiat.
Selain itu, anak-anak diajarkan untuk bertanggung jawab atas setiap tindakannya, sehingga generasi berikutnya dapat memahami standard halal dan haram. Kedua, mengawal masyarakat melalui penerapan amar makruf nahi mungkar.
Orang-orang yang saling menasihati akan mencegah perbuatan buruk terjadi. Sebuah masyarakat yang terbiasa dengan amar ma’ruf nahi munkar tidak akan membiarkan perbuatan buruk menyebar.
Ketiga, negara akan memberlakukan sistem yang memastikan tidak beredarnya narkoba di negara. Salah satunya dengan menjalankan patroli rutin oleh aparat keamanan negara. Aparat keamanan negara akan menjaga perbatasan darat, laut, dan udara untuk mencegah masuknya narkoba, baik hasil produk maupun bahan bakunya.
Kemudian, negara akan menerapkan sanksi tegas bagi mereka yang menggunakan, mengedarkan, atau memproduksi narkoba. Sanksi takzir berupa jenis dan kadarnya akan diputuskan oleh Qadi, seperti cambuk, penjara, atau pembunuhan, dan sebagainya.
Dalam Islam, ibu memiliki tanggung jawab utama untuk mengasuh anak, terutama sebelum usia baligh. Namun, ayah juga memiliki peran penting dalam proses membentuk kepribadian anak dengan memberikan kasih sayang, perhatian, dan teladan secara utuh dan sepenuh hati.
Selain itu, orang tua bukan satu-satunya yang bertanggung jawab untuk menciptakan generasi terbaik; peran masyarakat dan negara juga penting untuk tumbuh kembang anak dan pelaksanaan aturan Islam.
Dengan demikian, sudah saatnya kita kembali kepada syariat Islam secara sempurna agar masalah narkoba tidak lagi muncul dan bisa teratasi denga terwujudnya kepemimpinan islam global.[]